LPJ HIMAPSI BERGEMA

LPJ HIMAPSI BERGEMA

Selamat pagi, Psikologi!

Setelah satu tahun mengudara, HIMAPSI BERGEMA pun mendarat. Terhitung musyawarah besar HIMAPSI yang diadakan 17 November lalu, telah berakhir masa kepengurusan HIMAPSI BERGEMA. Laporan Pertanggungjawaban pengurus periode 2018 bisa kamu lihat di SINI

“The beginning is the word and the end is silence. And in between are all the stories.” ― Kate Atkinson

#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI
#PsikologiUNS

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS

[PSIKOLOGIKA] GERD

[PSIKOLOGIKA] GERD

Wahh, apaan tuh GERD ? Kayak pernah denger gitu gak sih ? Nah, GERD ini tuh singkatan dari Gastroesophageal Reflux Disease atau yang sering kita denger sebagai penyakit asam lambung. Nah, biasanya orang-orang yang kena GERD ini nih bakal ngerasain rasa terbakar alias heartburn yang gak enak banget lah pokoknya dan bisa jadi sangat mengganggu aktivitas sehari-hari (Bhatia & Tandon, 2005).

Berdasarkan penelitian yang udah dilakuin sama para ahli, tingkat penderita GERD di Benua Asia bisa dibilang kecil banget sih cuman sekitaran 2-5%, karena kebanyakan penyakit ini tuh diderita sama penduduk negara-negara maju akibat faktor stress yang udah berlebihan alias overstressed. Selain itu, pola makan yang gak teratur juga dianggep bisa memicu penyakit ini (Soderholm & Perdue, 2003).

So guys, biar gak kena penyakit ini, usahain buat makan dengan teratur sama jalani hidupmu dengan enjoy gausah stress hehe.

[J, Supriyatin. 2013. Gastro Esophageal Reflux Diseases pada Ibu Rumah Tangga Dewasa Muda dengan Stressor Financial Keluarga. Kedokteran, Volume 1 Nomor 2, 89-94.]

#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI
#PsikologiUNS

#Psikologika

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS

[PSIKOLOGIKA] MAHASISWA? BURNOUT?

[PSIKOLOGIKA] MAHASISWA? BURNOUT?

Apakah ada yang merasa lelah dengan tuntutan studi kita? Bersikap negatif dengan tugas-tugas perkuliahan? Atau bahkan merasa tidak kompeten secara akademik sebagai mahasiswa? Semoga tidak yaa. Jika iya, mungkin kamu sedang academic burnout kawan.

Jadi, berdasarkan suatu penelitian oleh Arlinkasari & Akmal (2017) academic burnout bisa diminimalisasi dengan adanya school engagement dan academic self-efficacy.

Hah? Itu apa?

Maksud dari school engagement adalah adanya perilaku positif mahasiswa terhadap kehidupan akademiknya. Ia berpartisipasi dengan baik di perkuliahan, tekun, dan memiliki hasil belajar yang baik. Tentunya hal ini diimbangi dengan adanya dukungan pendidik dan sesama mahasiswa, serta adanya tugas yang menantang, otentik, cukup, dan teratur. Sedangkan academic self-efficacy sendiri merupakan keyakinan mahasiswa untuk mampu mengerjakan tugas-tugas akademik yang dimiliki.

Jadi, kesimpulan dari hal ini adalah jalani kehidupan kampus dengan baik, waktunya kuliah ya kuliah, saling mendukung antar elemen, dan yakinlah bahwa kita bisa menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan kita.

Semangat Mahasiswa!

Sumber
Arlinkasari, F., & Akmal, S. Z. (2017). Hubungan antara School Engagement, Academic Self-Efficacy dan Academic Burnout pada Mahasiswa. Humanitas, Volume 1 Nomor 2 , 81-102.

#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI
#PsikologiUNS

#Psikologika

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS

[PSIKOLOGIKA] HOMESICK

[PSIKOLOGIKA] HOMESICK

Baru mulai kuliah? Masih kepikiran terus sama semua hal yang ada di rumah?

Temen-temen, perubahan rutinitas, sosialisasi, kondisi tempat, dan adanya banyak tuntutan memang dapat menyebabkan homesick. Tapi, perlu kita ketahui bahwa homesick merupakan bagian yang normal dialami oleh mereka yang jauh dari rumah. Selain itu, homesick justru dapat menjadi refleksi buat kita kalau ada orang, tempat, atau sesuatu dirumah yang berharga bagi kita.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi homesick?

Kita bisa saja memanfaakan teknologi untuk sering-sering melakukan komunikasi dengan rumah. Tapi, perlu diperhatikan juga jika kita harus tahu kadarnya. Terlalu sering melakukan hal ini justru bisa membuat kita kesulitan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru, karena terlalu fokus dengan apa-apa yang ada dirumah.

Memang mengobati homesick memerlukan proses yang memakan waktu. Tidak bisa instan gitu aja. Nah, kita bisa mengikuti atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang kita sukai di kampus (misal kegiatan rohani, sosial, organisasi, olah raga, dsb), berusaha mendapat teman-teman baru, berfikir positif tentang dunia akademik yang dijalani, dapat juga bercerita dengan teman baru yang dipercaya.

Buat para kakak tingkat juga bisa membuat suatu kondisi orientasi yang menyenangkan dan hangat, sehingga mahasiswa baru bisa mendapatkan kesempatan untuk bersosialisasi dan membuat dirinya dikenal dan merasa nyaman.

Happy a new life!

Sumber
Thurber, Chistopher A. & Walton, Edward A. (2011). Homesickness and Adjustment in University Students. Journal of American College Health Vol. 60 No. 5, 1-5.

#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI
#PsikologiUNS

#Psikologika

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS

[PSIKOLOGIKA] MUSIK KLASIK DAN KONSENTRASI BELAJAR

[PSIKOLOGIKA] MUSIK KLASIK DAN KONSENTRASI BELAJAR

Apakah benar musik klasik mempengaruhi daya tahan konsentrasi kita dalam belajar?

Ketika kita sedang belajar, konsentrasi yang tinggi pastilah diperlukan. Salah satu upaya agar kita berkonsentrasi ketika belajar adalah dengan mendengarkan musik klasik. Lalu, apakah hal tersebut berpengaruh?

Penelitian yang dilakukan oleh Schuster dan Gritton (dalam Deporter, 2010: 111), menunjukkan bahwa musik klasik paling cocok diperdengarkan pada saat belajar, mengulang, dan saat berkonsentrasi.

Belajar yang diiringi dengan musik klasik dapat membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi, karena musik klasik mampu menyeimbangkan aktivitas dari belahan otak kanan dan kiri serta mengatur gelombang otak dalam kondisi yang diperlukan ketika belajar (Gunawan, 2007: 63).

Dengan mendengarkan musik klasik ketika belajar, kita akan berada dalam kondisi yang nyaman, santai dan rileks, serta tenang. Kondisi yang rileks dapat mempermudah kita untuk berkonsentrasi dan memiliki daya tahan konsentrasi yang baik, sehingga meningkatkan kemampuan kita dalam belajar.

Jadi memang benar bahwa musik klasik mempengaruhi daya tahan konsentrasi kita ketika belajar. Tetapi dengan daya tahan konsentrasi yang tinggi, belum tentu kita memahami bacaan yang dibaca. Karena hal tersebut dipengaruhi oleh gaya belajar kita masing-masing. Daya tahan konsentrasi tergantung dari potensi kita masing masing, dan dapat ditingkatkan dengan menggunakan musik klasik.

Sumber: Hidayat, Saifaturrahmi dan Marettih, Anggia. 2011. “Pengaruh Musik Klasik terhadap Daya Tahan Konsentrasi dalam Belajar” . Jurnal Psikologi, 7(2).

#Psikologika
#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI
#PsikologiUNS

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS

 

[PSIKOLOGIKA] KESEPIAN

Kalian pasti pernah kan merasa kesepian? Sebenarnya, kesepian itu apa sih?

Kesepian adalah merasa sendirian di dalam diri sendiri atau tidak cukup puas daripada sendirian secara fisik.

Lalu apakah sendirian bisa menyebabkan kesepian? Sendirian adalah pilihan yang lebih disukai dan mungkin tidak menyebabkan perasaan kesepian. Kesepian juga adalah keadaan emosi yang dirasakan secara subjektif daripada yang dapat diukur dengan jumlahnya orang yang dekat dengan kita.

Weiss (1973) berpendapat bahwa kesepian dibagi menjadi dua kategori: Kesendirian emosional dan kesepian sosial. Kesepian emosional adalah keadaan di mana hubungannya tidak ada yang dekat dan kesepian emosional lebih sulit dan menyakitkan dibandingkan kesepian sosial, sedangkan kesepian sosial adalah keadaan di mana kita merasa tidak ada lingkaran sosial yang memuaskan.

Lalu, penyebab kesepian apa saja?

Beberapa karakteristik diri seperti malu, kurang percaya diri, keterampilan sosial yang kurang, pengalaman masa kecil yang menyebabkan kesepian.

Orang yang baru saja pindah, kehilangan pasangan karena kematian, siswa yang pindah sekolah, pengangguran merupakan contoh dari kesepian sementara.

Selain itu, kesepian jangka panjang mungkin disebabkan gangguan psikologis seperti skizofrenia, depresi yang bisa menjadi penyebab dan akibat dari kesepian, gangguan kepribadian, dan lain lain.

Terus, bagaimana cara mengatasi kesepian?

Seseorang dapat melakukan kegiatan individu seperti membaca dan melukis. Seseorang yang kesepian juga disarankan untuk bepergian, menghabiskan waktu bersama orang lain, dan mengikuti kegiatan sosial. Adapun cara lain mengatasi kesepian dengan memiliki pasangan.

Sedangkan untuk orang yang kesepian karena masalah psikologis, disarankan untuk mendapatkan bantuan berupa terapi maupun konseling dari profesional, seperti psikolog

Sumber: Cosan, Deniz. 2014. The European Proceedings of Social & Behavioural Sciences. Keele, Staffordshire. eISSN: 2357-1330

#Psikologika
#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI
#PsikologiUNS

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS

[PSIKOLOGIKA] APAKAH NARSIS DI INSTAGRAM BERHUBUNGAN DENGAN KESEPIAN?

[PSIKOLOGIKA] APAKAH NARSIS DI INSTAGRAM BERHUBUNGAN DENGAN KESEPIAN?

Pernah ga sih kalian merasa kesepian ketika sering bermain sosial media/smartphone? Atau malah kalian bermain sosial media karena untuk menghilangkan rasa kesepian itu?

Hmmm.. kenapa ya seseorang bisa merasa kesepian?
Menurut Russell dalam Sembiring (2017) , individu merasa kesepian karena individu tidak mendapatkan kehidupan sosial yang diinginkan pada kehidupan di lingkungan aslinya.

Terus apakah motivasi orang-orang untuk bermain sosial media adalah untuk menghilangkan rasa kesepian itu?
Hidayati dakam Sembiring (2017) mengatakan bahwa motivasi individu menggunakan media sosial adalah untuk menjalin komunikasi dengan orang lain dan akan merasakan kepuasan ketika melakukannya secara terus menerus.

Dan dalam penelitian oleh Kembaren Dianelia Sembiring (2017) didapatkan bahwa tingkat kesepian memang berhubungan dengan penggunaan Instagram. Namun, tidak berhubungan dengan kecenderungan narsistik.

Seseorang yang narsis di Instagram dicirikan dengan kecenderungan memamerkan kelebihan dirinya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti menutupi kekurangan yang ada, harga diri yang rendah, depresi, juga adanya dukungan sosial untuk melakukan narsisme.

Sumber: Sembiring, Kembaren Dianelia R. 2017. Hubungan Antara kesepian dan Kecenderungan Narsisistik pada Pengguna Jejaring Sosial Media Instagram. Jurnal Psikologi, Vol 16. hlm. 147-154.

#Psikologika
#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI
#PsikologiUNS

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS

[PSIKOLOGIKA] KENAPA MEMAAFKAN?

[PSIKOLOGIKA] KENAPA MEMAAFKAN?

Pemaafan atau forgiveness bukanlah melupakan kejadian yang terjadi, bukan pula pembebasan, pengampunan, atau menyatakan bahwa apa yang terjadi dapat dimaklumi di masa depan (Martin, 2014). Memaafkan merupakan suatu proses “berdamai” dengan diri sendiri, orang lain, maupun situasi yang menyakitkan (Raj, Elizabeth, & Padmakumari, 2016).

Kalo orang-orang sih bilangnya memaafkan itu untungnya bukan cuma buat orang lain, tapi buat kita sendiri. Bener gak ya?

Berdasarkan penelitian oleh Raj, WElizabeth, & Padmakumari (2016) dengan memaafkan ternyata seseorang akan mendapatkan emosi yang lebih positif, seperti lebih terbuka, emosi yang lebih stabil, lebih puas dengan hubungan sosial, sehingga dapat meningkatkan kebermaknaan hidup (well-being). Selain itu, dengan forgiveness maka seseorang akan lebih mampu menerima diri dan menumbuhkan kekuatan serta bersikap optimis dalam menghadapi lika-liku kehidupan.

Bibliography

Martin, William Fegus.(2014). Four Step to Forgiveness.USA: Findhorn Press.

Raj, P., Elizabeth, C., & Padmakumari, P. (2016). Mental Health through Forgiveness: Exploring The Roots and Benefits. Cogent Psychology, 3 , 1-16.

#Psikologika
#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI
#PsikologiUNS

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS

[PSIKOLOGIKA] BIAS ATRIBUSI

[PSIKOLOGIKA] BIAS ATRIBUSI

Alkisah, ada seseorang yang ketika datang terlambat dia akan menyalahkan ban bocor karena kondisi ban sudah halus.Tapi, ia mengesampingkan fakta bahwa ia tidak pernah mengecek kondisi kendaraan sebelumnya.

Namun, saat ada teman yang terlambat karena terkena macet di jalan ia akan menganggap hal itu disebabkan oleh kesalahan temannya tidak berangkat lebih awal dan mengesampingkan fakta bahwa temannya sudah mencoba berangkat lebih awal namun tetap terkena macet.

Kenapa ya?

Jadi, itu adalah contoh bias atribusi kawan.

Suatu hal yang terjadi pada kita memang dipengaruhi oleh hal-hal yang dapat dikendalikan dan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Orang yang mengalami bias atribusi akan memandang hal buruk yang terjadi pada dirinya disebabkan oleh faktor yang berada diluar kendalinya dan mengesampingkan hal-hal yang dapat ia kendalikan. Sebaliknya, ketika hal baik terjadi ia akan menganggapnya sebagai hasil dari apa yang dapat ia kendalikan.

Namun, saat hal yang buruk terjadi pada orang lain, maka ia akan menganggap bahwa itu disebabkan oleh faktor yang dapat dikendalikan dan mengesampingkan siatuasi yang tidak dapat dikendalikan oleh orang lain.

Halah masa sih?

Gak percaya? Nih sumbernya

Myers, D. G. (2014). Psikologi Sosial Edisi 10 Buku 1. Jakarta: Salemba Humanika.

#Psikologika
#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI
#PsikologiUNS

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS

[PSIKOLOGIKA] PHUBBING

[PSIKOLOGIKA] PHUBBING

Smartphone dan manusia sepertinya sulit untuk dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan saat sedang berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Phubbing sendiri merujuk pada phone dan snubbing yang artinya adalah menyakiti lawan bicara dengan penggunaan smartphone yang berlebihan.

Alasan orang yang phubbing adalah mereka sedang membalas pesan, menerima telepon, membuka media sosial, atau membuka website. Tapi, apa sebenarnya yang membuat orang melakukan phubbing? Adiksi terhadap internet, takut kehilangan, kontrol diri yang rendah terhadap adiksi smartphone adalah beberapa hal yang melatarbelakanginya (Chotpitayasunondh & Douglas, 2016).

Sebagian orang tidak mempermasalahkan jika orang lain berbicara dengan mereka sembari menggunakan smartphonenya, namun sebagian besar orang merasa terganggu, disepelekan, dan tidak diapresiasi (Hanika, 2015). Phubbing pun bisa berdampak negatif terhadap hubungan sosial dan kesehatan mental kita.

Jadi, be smart with your smartphone ya guys

Sumber:
Chotpitayasunondh, V., & Douglas, K. M. (2016). How “Phubbing” Becomes The Norm: The Antecedents and Consequences of Snubbing Via Smartphone. Computers in Human Behavior 63 , 9-18. doi: 10.1111/jasp.12506
Hanika, I. M. (2015). Fenomena Phubbing di Era Milenial (Ketergantungan Seseorang pada Smartphone terhadap Lingkungannya). Jurnal Interaksi Vol. 4 No.1 , 42-51. doi:https://doi.org/10.14710/interaksi,4,1,42-51

#Psikologika
#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI
#PsikologiUNS

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS