OPEN PRE-ORDER PSYCHOMERCH

OPEN PRE-ORDER PSYCHOMERCH

Siapa sih yang nggak bangga jadi bagian Psikologi UNS??
Yakali enggaak
Pengen dong punya merchandise official dari Psikologi UNS 😏

Berbahagialah kalian karena Psychomerch sudah open PO! 🎉

Open PO sampai tanggal 10 Mei 2018 yaaa 😄

▪Totebag
💵50k
》Bahan canvas
》Ukuran 30×35 cm

▪Kaos
💵 Pendek 60k
💵 Panjang 65k
💵 Size XXL/XXXL +10k
》Catton combad 30s
》Size Chart
S : 46 x 68
M : 48 x 71
L : 51 x 74
XL : 53 x 77
XXL : 55 x 80

▪Ganci
💵 10k

▪Stiker S.Psi
💵 5k
》Sticker timbul

▪Sticker tulisan
💵 3k
》Sticker tidak timbul

▪Buku
💵 20k
》Spiral putih

Buruan pesan ke CP sebelum tutup PO-nyaaa 😉
Yakali enggak 😏

CP : Akhwina
Line : akhwina_
WA : 087735177717

#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns
IG: @psikologi_uns
Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS

[PSIKOLOGIKA] PROKRASTINASI, APA TUH?!

[PSIKOLOGIKA] PROKRASTINASI, APA TUH?!

“Ah, gue kerjain besok lah.”

“Males, masih lama juga deadline nya.”

Sebagai mahasiswa, pasti pernah dong yang namanya menunda-nunda mengerjakan tugas. Kalimat-kalimat diatas pasti gak asing ditelinga kita.

Jujur aja, iyakan?

Jadi, menunda dalam memulai, melaksanakan, dan mengakhiri suatu aktivitas itu namanya prokrastinasi.

Nah, apa aja sih yang menyebabkan seseorang menunda mengerjakan tugasnya?

Menurut salah satu jurnal, faktor penyebab prokrastinasi itu ada dua, faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal itu ada faktor fisik, kayak lelah, ngantuk, dan capek dan ada faktor psikis. Faktor psikis ini ada 6 nih, yaitu Mahasiswa tidak mengerti tugasnya, Tidak menguasai materi tugas, muncul rasa malas, tidak bisa mengatur waktu, kurangnya minat pada mata kuliah tersebut, dan yang terakhir ada mood atau suasana hati. Selain itu juga ada penilaian subjek terhadap sifat pengajar, seperti pengajar yang killer, baik, dan kurang tegas

Faktor eksternal itu ada 7 nih, ada tingkat kesulitan tugas, tidak adanya fasilitas dalam mengerjakan, kurang referensi karena sumber yang sulit, waktu mengumpulkannya masih lama, saling mengandalkan teman, kesibukkan diluar kuliah, dan penumpukan tugas.

Dan ternyata nih, yang lebih banyak memengaruhi prokrastinasi itu dari faktor eksternal looo

Tapiiiii, bagaimanapun, menunda-nunda pekerjaan itu tidak baik dan akan berdampak buruk pada diri sendiri.

Jadi, segera kerjakan tugasnya dan beralih ke tugas yang lain yaa~~

Semangat kuliahnya~~

Sumber : Fauziah, Hana Hanifah. 2015. Faktor-faktor yang Mempengaruuhi Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Psympathic (2)2: 123-132.

[PSIKOLOGIKA] Mempertahankan LDR

[PSIKOLOGIKA] Mempertahankan LDR

Pernah ngga sih kalian denger LDR?

 

Long distance relationship itu ketika pasangan terpisahkan jarak yang jauh guys. Jarak itu lalu bisa membatasi komunikasi, karena pasangan jarang bisa bertemu dan melakukan aktivitas bersama.

 

Rasa setia terhadap pasangan menjadi lebih sulit untuk diungkapkan, dimana individu tidak bisa melihat pasangan secara fisik dan tidak tahu keseharian pasangannya. Konflik yang ada bisa terjadi karena keterbatasan komunikasi secara langsung ini. Perasaan cemas, khawatir, curiga, kangen, kesepian dan kecemburuan dirasakan oleh pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh.

 

Kita bisa mempertahankan hubungan kita dengan yang namanya komitmen. Komitmen untuk terus bersama-sama melanjutkan hubungan dengan pasangan.

 

Komitmen yang kuat bisa tumbuh dengan cara peka. Iya..peka terhadap perasaan pasangan kita. Kita harus bersedia mendengarkan dan mau memberikan solusi atas permasalahan yang pasangan kita hadapi. Sempatkanlah waktu untuk menghubungi pasangan kita meski sekedar via media sosial. Dan yang paling penting adalah percaya pada pasangan..tahan curiga, marah-marah nggak jelas, dan sebagainya demi hubungan yang lebih panjang.

 

Sumber: Dharmawijayati,  Ratna Dyah. (2016). Komitmen dalam Berpacaran Jarak Jauh pada Wanita Dewasa Awal.  eJournal Psikologi,  4(2): 237-248

[PSIKOLOGIKA] APA IYA SIH?

[PSIKOLOGIKA] APA IYA SIH?

Apa iya sih cewek lebih gampang depresi dari cowok?

Ah ga mungkin!

Tapi, menurut Nolen‐Hoeksema dan Girgus (dalam Davison dan Neale, 2001), cewek memang lebih depresif loh daripada cowok.

Tapi kok bisa ya?

Kenapa tuuuh?

Katanya sih ya, karena cewek itu kurang asertif dan kemampuan kepemimpinannya lebih rendah dari cowok.

Dan ga cuma itu aja, cewek itu soalnya lebih sering pake coping ruminatif loh dibanding cowok. Cewek lebih memusatkan perhatiannya pada simtom‐simtom depresi yang dialaminya.

Tapi beda sama cowok, kalo cowok cenderung mengalihkannya pada beberapa aktivitas fisik, seperti menonton TV dan berperilaku agresif.

Oiya selain itu karena cewek juga kurang dominan, kurang agresif baik secara fisik maupun verbal dalam berinteraksi dengan kelompoknya.

Jadi, yang cewek hati-hati ya, hihihi

Tapi semua juga kembali kepada perbedaan individu masing-masing kok. Kalau kita sudah menemukan koping stress yang baik, kita bisa mengurangi kemungkinan depresi.

Jadi, jangan lupa selalu bersyukur dan bahagia ya~~~

Referensi:
Darmayanti, Nefi. 2008. “Meta-Analisis: Gender dan Depresi pada Remaja”. Jurnal Psikologi UGM. 35 (2): 164-180.

#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————
Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Youtube: PSIKOLOGI UNS

[PSIKOLOGIKA] PERILAKU KU, PERILAKU MU

[PSIKOLOGIKA] PERILAKU KU, PERILAKU MU

“”orangtuaku kan orang jawa, jadi ya aku kayak gini dong.””

““aku hidup di jawa, jadi beda sama kamu.””

““namanya juga orang jawa, mau digimanain lagi?””

 

Sering mendengar kalimat-kalimat tersebut? Kayak sering banget terdengar di sekitar kita mengenai budaya dan pola asuh ya teman? Jadi sebenernya budaya itu terikat atau identik dengan perilaku ataupun nilai-nilai yang dimiliki seseorang karena faktor apa sih? Pola asuh orang tua? Emmmm, atau karena lingkungan? Atau karena masa lalu? Atau malah karena garis keturunan? Jangan-jangan karena sel genetik dalam tubuh kita lagi. Hmmmm….

Daripada bingung-bingung coba kita intip ilmu dari penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Idrus dalam jurnalnya, menyatakan bahwa hasil penelitian yang didapatkan ternyata….. jeng jeng jeng jengggg

“(1) model yang diajukan fit dengan data empirik di lapangan,

(2) perkembangan kepercayaan eskistensial tidak berkembang searah perkembangan usia kronologis,

(3) Pola asuh orang tua ternyata tidak memiliki efek langsung terhadap identitas, tapi melalui orientasi budaya. Pola asuh orang tua memiliki efek langsung atau pun tidak langsung terhadap eksistensial remaja. Efek tidak langsung pola asuh orang tua terhadap kepercayaan eksistensial terjadi melalui orientasi nilai budaya dan status identitas.

(4) Interaksi teman sebaya memiliki efek langsung atau pun tidak langsung terhadap status identitas, kepercayaa eksistensial remaja dan orientasi nilai budaya. Selain itu juga diketahui adanya efek tidak langsung interaksi teman sebaya terhadap kepercayaan eksistensial remaja melalui status identitas dan orientasi nilai budaya, sedangkan efek tidak langsung interaksi teman sebaya terhadap status identitas melalui orientasi budaya:

(5) Orientasi nilai budaya memiliki efek positif terhadap status identitas. Selain itu, orientasi nilai budaya memiliki efek positif baik langsung atau pun tidak langsung terhadap kepercayaan eksistensial. Efek tidak langsung orientasi nilai budaya terhadap kepercayaan eksistensial terjadi melalui status identitas.

(6) Ada interaksi segitiga antara orientasi nilai budaya, status identitas dan kepercayaan eksistensial. Bagi orang Jawa terasa sulit untuk menentukan acara baik dalam hal memilih antara budaya dan agama sebagai jati dirinya. Pilihan yang mungkin sebagaimana selama ini ditempuh masyarakat Jawa adalah menggabungkan keduanya, yang dikenal sebagai ―kejawen‖, yaitu sinkretisme antara budaya dan agama.”

Jadi dapat disimpulkan bahwa pola asuh tidak memberikan efek langsung pada orientasi nilai budaya maupun status identitas seorang remaja, berbeda dengan interaksi teman sebaya yang memiliki efek secara langsung maupun tidak langsung pada orientasi nilai budaya dan status identitas diri remaja dimana orientasi nilai budaya ini sendiri memiliki efek positif dengan status identitas seorang remaja.

Nah, dari sedikit penjelasan di atas dapat kita pahami kan ternyata orientasi nilai budaya maupun status identitas dari seseorang yang biasa kita sebut kebiasaan, perilaku, ataupun ke identik an dari seorang individu ternyata mendapatkan efek tidak langsung lho dari pola asuh melainkan mendapatkan efek langsung dari teman sebayanya. Soooo, tetap berbuat baik dan menebar manfaat genggsss, dengan bertebarannya manfaat di sekitarmu mungkin saja akan membentuk orientasi nilai budaya hingga status identitas remaja di sekitar menjadi penerus bangsa yang berbudi luhur~

HIMAPSI 2018
BERGERAK BERSAMA MENEBAR MANFAAT

HIMAPSI BERGEMA

 

Referensi :

Idrus, Muhammad. (2015). Kepercayaan Eksistensial Remaja Jawa: Studi di Desa Tlogorejo, Purwodadi, Purworejo, Jawa Tengah. Jurnal Psikologi Islami, 1(1).

HIMAPSI BERGEMA

HIMAPSI BERGEMA

HIMAPSI BERGEMA memiliki arti Bergerak Bersama Menebar Manfaat

bergema [ber•ge•ma] kata verbia
Ada gemanya; bergaung; berkumandang

Diambil dari arti bergema itu sendiri, suara yang lazim menjadi media kami ibaratkan menjadi kebaikan. Kami berharap dapat menyuarakan kebaikan dari titik satu ke titik lainnya dan semoga dari titik lain tersebut, kebaikan dapat kembali kepada kami.

#WeCareWeLoveWeareHIMAPSI

HIMAPSI BERGEMA
“Bergerak Bersama Menebar Manfaat”

—————————

Line: @himapsiuns

IG: @psikologi_uns

Web: himapsi.fk.uns.ac.id

[KEJORA] Memadukan Paradigma atas dasar Kecintaan terhadap Psikologi melalui LGD

[KEJORA] Memadukan Paradigma atas dasar Kecintaan terhadap Psikologi melalui LGD

Memadukan Paradigma atas dasar Kecintaan terhadap Psikologi melalui LGD

Hallo teman-teman Psikologi! Beberapa waktu lalu Himpunan Mahasiswa Psikologi Fakultas Kedokteran UNS mengadakan LGD sebagai salah satu rangkaian dari open recruitment pengurus, masih ingat kan ya? Masih dong yaa ^^. LGD (Leaderless Group Discussion) yang diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 15 Desember 2017 tersebut membahas mengenai minimnya partisipasi aktif masyarakat psikologi dalam beberapa program kerja yang diadakan oleh HIMAPSI. Penasaran dengan hasil diskusi yang dilakukan oleh teman-teman? Simak rilis kami berikut ini!

Seperti yang telah diketahui bersama telah terlaksana beberapa program kerja HIMAPSI seperti ARCHETYPE, MUBES, BINGO,  SARASEHAN, dsb. Program kerja yang dilaksanakan oleh HIMAPSI memiliki tujuan untuk menyalurkan, mewadahi, serta mengembangkan potensi dan kebutuhan masyarakat psikologi.  Dalam keberjalanannya program-program tersebut terlaksana dengan lancar, tetapi beberapa pula memiliki evaluasi berupa minimnya keterlibatan masyarakat psikologi secara aktif. Partisipasi masyarakat psikologi yang seharusnya tinggi, mengingat program-program yang dilaksanakan merupakan sarana internalisasi, kaderisasi, dan pengembangan potensi mahasiswa psikologi, justru dalam kasusnya mengalami kekurangan partisipan. Beberapa hal yang mempengaruhi minimnya keterlibatan masyarakat psikologi, diantaranya yaitu banyaknya program kerja yang ada di HIMAPSI, kurang relevannya proker dengan kebutuhan dan keadaan anggota, serta perbedaan lingkungan psikologi saat ini (sebelumnya psikologi berda di kampus Mesen, kini pindah di kampus Kentingan), atau pun kesibukan yang dimiliki masing-masing anggota.

Menyadari pentingnya keterlibatan mayarakat psikologi dalam progam kerja HIMAPSI yang dalam keberjalanannya ternyata masih minim, maka diperlukan langkah konkret dari pengurus maupun anggota untuk bersama-sama melakukan gerakan dalam penyelesaian permasalahan tersebut. Berikut ini berbagai gagasan yang dirangkum dalam LGD seleksi pengurus HIMAPSI:

  1. Meningkatkan kesadaran diri untuk berkontribusi aktif

Kurangnya partisipasi mahasiswa psikologi tentu tidak dapat terlepas dari kesadaran diri masing-masing individu untuk berkontribusi aktif. Kesadaran untuk berkontribusi aktif ini dapat ditumbuhkan dengan adanya rasa kepemilikan dan kecintaan terhadap psikologi, di mana hal ini dapat dimulai sejak masa orientasi.

Poin penting lainnya adalah pengurus HIMAPSI sebagai penyedia dan pelaksana program kerja tentunya juga harus menumbuhkan rasa kesadaran diri untuk berkontribusi aktif dalam program kerja yang diadakan oleh HIMAPSI. Hal ini tentu saja sangat berguna agar para mahasiswa Psikologi lainnya yang merupakan anggota juga akan lebih menghargai dan antusias untuk berkontribusi aktif dalam program kerja yang diadakan.

 

  1. Optimalisasi publikasi dan sosialisasi

Publikasi dan sosialisasi terkait program kerja yang akan diselenggarakan merupakan hal penting untuk memperkenalkan kepada mahasiswa psikologi terkait program kerja tersebut. Di era yang serba canggih seperti saat ini publikasi dan sosialisasi dapat dilakukan melalui media sosial. Namun, publikasi dan sosialiasi secara langsung tetap tidak boleh dilupakan. Penggunaan mading sebagai wadah informasi perlu dioptimalkan kembali. Mading ini tidak hanya digunakan sebagai wadah informasi  bagi program kerja terdekat yang akan berlangsung, tetapi juga berisi timeline program kerja HIMAPSI. Hal tersebut diperlukan supaya mahasiswa psikologi dapat menyesuaikan jadwal mereka masing-masing dengan jadwal program kerja yang akan diselenggarakan.

Sosialisasi juga menjadi hal yang tak kalah penting untuk dilakukan. Sosialisasi secara personal atau mendatangi kelas demi kelas juga perlu dilakukan untuk meningkatkan antusias mahasiswa psikologi dalam mengikuti setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh HIMAPSI. Selain itu, dapat pula menggunakan cara-cara kekinian, seperti menggunakan twibbon  untuk suatu acara dan mengajak mahasiswa psikologi untuk menggunakannya. Tentu saja sosialisasi ini tidak hanya sekedar sosialisasi biasa seperti penyampaian informasi pada umumnya, namun sosialisasi ini dapat sekaligus merekatkan hubungan antara satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya. Hal terpenting lainnya dalam sosialisasi adalah tidak disosialisasikannya secara mendadak. Sosialisasi yang dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama sebelum acara memungkinkan untuk mendapatkan partisipan yang lebih banyak.

 

  1. Melakukan efektivitas program kerja

Banyaknya program kerja yang diselenggarakan oleh HIMAPSI terkadang membuat para mahasiswa kebingungan untuk memilih kegiatan mana yang akan diikuti, karena terkadang pula terdapat beberapa program kerja yang diadakan dalam satu waktu. Dan tak jarang pula program kerja yang diadakan tersebut memiliki tujuan yang sama. Namun, alangkah lebih baik bila program kerja yang memiliki tujuan sama bisa dijadikan satu atau dimerger menjadi sebuah program kerja yang besar dan menarik. Hal tersebut tentu akan menjadikan waktu dan tenaga lebih efektif.

Program kerja yang dimerger tersebut pun akan memberikan manfaat dimana berkurangnya kemungkinan program kerja yang diadakan bertabrakan satu sama lain. Dengan berkurangnya program kerja yang diadakan dalam satu hari yang sama, tentunya akan meningkatkan tingkat partisipasi dari mahasiswa psikologi untuk menghadiri program kerja tersebut. Koordinasi antar pengurus HIMAPSI dalam perencanaan program kerja yang dilakukan dengan matang sangat diperlukan dalam hal ini.

 

Terlaksananya LGD yang dilakukan pada tanggal 15 Desember 2017 lalu memberikan beberapa solusi yang tentunya bermanfaat untuk keberjalanan program kerja HIMAPSI kedepannya dan juga untuk meningkatkan rasa kekeluargaan antara anggota dan pengurus HIMAPSI. Terimakasih untuk mahasiswa Psikologi UNS yang telah berpartisipasi dalam LGD kali ini. Segala kritik, saran dan gagasan yang telah disampaikan tentunya tidak serta merta hanya menjadi cacatan harian saja, melainkan membawa gagasan tersebut dalam tindakan yang baik dan bermanfaat.

 

 

Salam hangat,

Komite Kajian Strategis dan Advokasi

HIMAPSI FK UNS 2018