[KEJORA] Memadukan Paradigma atas dasar Kecintaan terhadap Psikologi melalui LGD

[KEJORA] Memadukan Paradigma atas dasar Kecintaan terhadap Psikologi melalui LGD

Memadukan Paradigma atas dasar Kecintaan terhadap Psikologi melalui LGD

Hallo teman-teman Psikologi! Beberapa waktu lalu Himpunan Mahasiswa Psikologi Fakultas Kedokteran UNS mengadakan LGD sebagai salah satu rangkaian dari open recruitment pengurus, masih ingat kan ya? Masih dong yaa ^^. LGD (Leaderless Group Discussion) yang diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 15 Desember 2017 tersebut membahas mengenai minimnya partisipasi aktif masyarakat psikologi dalam beberapa program kerja yang diadakan oleh HIMAPSI. Penasaran dengan hasil diskusi yang dilakukan oleh teman-teman? Simak rilis kami berikut ini!

Seperti yang telah diketahui bersama telah terlaksana beberapa program kerja HIMAPSI seperti ARCHETYPE, MUBES, BINGO,  SARASEHAN, dsb. Program kerja yang dilaksanakan oleh HIMAPSI memiliki tujuan untuk menyalurkan, mewadahi, serta mengembangkan potensi dan kebutuhan masyarakat psikologi.  Dalam keberjalanannya program-program tersebut terlaksana dengan lancar, tetapi beberapa pula memiliki evaluasi berupa minimnya keterlibatan masyarakat psikologi secara aktif. Partisipasi masyarakat psikologi yang seharusnya tinggi, mengingat program-program yang dilaksanakan merupakan sarana internalisasi, kaderisasi, dan pengembangan potensi mahasiswa psikologi, justru dalam kasusnya mengalami kekurangan partisipan. Beberapa hal yang mempengaruhi minimnya keterlibatan masyarakat psikologi, diantaranya yaitu banyaknya program kerja yang ada di HIMAPSI, kurang relevannya proker dengan kebutuhan dan keadaan anggota, serta perbedaan lingkungan psikologi saat ini (sebelumnya psikologi berda di kampus Mesen, kini pindah di kampus Kentingan), atau pun kesibukan yang dimiliki masing-masing anggota.

Menyadari pentingnya keterlibatan mayarakat psikologi dalam progam kerja HIMAPSI yang dalam keberjalanannya ternyata masih minim, maka diperlukan langkah konkret dari pengurus maupun anggota untuk bersama-sama melakukan gerakan dalam penyelesaian permasalahan tersebut. Berikut ini berbagai gagasan yang dirangkum dalam LGD seleksi pengurus HIMAPSI:

  1. Meningkatkan kesadaran diri untuk berkontribusi aktif

Kurangnya partisipasi mahasiswa psikologi tentu tidak dapat terlepas dari kesadaran diri masing-masing individu untuk berkontribusi aktif. Kesadaran untuk berkontribusi aktif ini dapat ditumbuhkan dengan adanya rasa kepemilikan dan kecintaan terhadap psikologi, di mana hal ini dapat dimulai sejak masa orientasi.

Poin penting lainnya adalah pengurus HIMAPSI sebagai penyedia dan pelaksana program kerja tentunya juga harus menumbuhkan rasa kesadaran diri untuk berkontribusi aktif dalam program kerja yang diadakan oleh HIMAPSI. Hal ini tentu saja sangat berguna agar para mahasiswa Psikologi lainnya yang merupakan anggota juga akan lebih menghargai dan antusias untuk berkontribusi aktif dalam program kerja yang diadakan.

 

  1. Optimalisasi publikasi dan sosialisasi

Publikasi dan sosialisasi terkait program kerja yang akan diselenggarakan merupakan hal penting untuk memperkenalkan kepada mahasiswa psikologi terkait program kerja tersebut. Di era yang serba canggih seperti saat ini publikasi dan sosialisasi dapat dilakukan melalui media sosial. Namun, publikasi dan sosialiasi secara langsung tetap tidak boleh dilupakan. Penggunaan mading sebagai wadah informasi perlu dioptimalkan kembali. Mading ini tidak hanya digunakan sebagai wadah informasi  bagi program kerja terdekat yang akan berlangsung, tetapi juga berisi timeline program kerja HIMAPSI. Hal tersebut diperlukan supaya mahasiswa psikologi dapat menyesuaikan jadwal mereka masing-masing dengan jadwal program kerja yang akan diselenggarakan.

Sosialisasi juga menjadi hal yang tak kalah penting untuk dilakukan. Sosialisasi secara personal atau mendatangi kelas demi kelas juga perlu dilakukan untuk meningkatkan antusias mahasiswa psikologi dalam mengikuti setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh HIMAPSI. Selain itu, dapat pula menggunakan cara-cara kekinian, seperti menggunakan twibbon  untuk suatu acara dan mengajak mahasiswa psikologi untuk menggunakannya. Tentu saja sosialisasi ini tidak hanya sekedar sosialisasi biasa seperti penyampaian informasi pada umumnya, namun sosialisasi ini dapat sekaligus merekatkan hubungan antara satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya. Hal terpenting lainnya dalam sosialisasi adalah tidak disosialisasikannya secara mendadak. Sosialisasi yang dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama sebelum acara memungkinkan untuk mendapatkan partisipan yang lebih banyak.

 

  1. Melakukan efektivitas program kerja

Banyaknya program kerja yang diselenggarakan oleh HIMAPSI terkadang membuat para mahasiswa kebingungan untuk memilih kegiatan mana yang akan diikuti, karena terkadang pula terdapat beberapa program kerja yang diadakan dalam satu waktu. Dan tak jarang pula program kerja yang diadakan tersebut memiliki tujuan yang sama. Namun, alangkah lebih baik bila program kerja yang memiliki tujuan sama bisa dijadikan satu atau dimerger menjadi sebuah program kerja yang besar dan menarik. Hal tersebut tentu akan menjadikan waktu dan tenaga lebih efektif.

Program kerja yang dimerger tersebut pun akan memberikan manfaat dimana berkurangnya kemungkinan program kerja yang diadakan bertabrakan satu sama lain. Dengan berkurangnya program kerja yang diadakan dalam satu hari yang sama, tentunya akan meningkatkan tingkat partisipasi dari mahasiswa psikologi untuk menghadiri program kerja tersebut. Koordinasi antar pengurus HIMAPSI dalam perencanaan program kerja yang dilakukan dengan matang sangat diperlukan dalam hal ini.

 

Terlaksananya LGD yang dilakukan pada tanggal 15 Desember 2017 lalu memberikan beberapa solusi yang tentunya bermanfaat untuk keberjalanan program kerja HIMAPSI kedepannya dan juga untuk meningkatkan rasa kekeluargaan antara anggota dan pengurus HIMAPSI. Terimakasih untuk mahasiswa Psikologi UNS yang telah berpartisipasi dalam LGD kali ini. Segala kritik, saran dan gagasan yang telah disampaikan tentunya tidak serta merta hanya menjadi cacatan harian saja, melainkan membawa gagasan tersebut dalam tindakan yang baik dan bermanfaat.

 

 

Salam hangat,

Komite Kajian Strategis dan Advokasi

HIMAPSI FK UNS 2018

 

[Psikologika] Kenapa Perempuan Bisa PMS?

Temen-temen pernah PMS? Tau gak sih PMS itu apa? Jadi, premenstrual syndrome (PMS) itu suatu keadaan dimana seorang wanita mengalami beberapa perubahan pada tubuh baik secara fisik, emosi, maupun perilaku. Jadi, PMS itu perubahannya bukan Cuma mood aja yaa. Sesuai dengan namanya, PMS terjadi sebelum menstruasi. Tapi jangan khawatir, perubahan-perubahan itu akan hilang bersamaan dengan selesainya fase menstruasi.

Peran dari sistem hormonal, gizi, dan lingkungan dapat menjadi faktor predisposisi yang mempengaruhi PMS. Gejala PMS dapat meningkat jika terjadi perubahan hormonal pada seorang wanita, dimana perubahan hormon estrogen akan mempengaruhi kadar serotonin dalam tubuh. Nah, hal inilah yang akan mempengaruhi faktor psikologis pada wanita tersebut sehingga terjadi perubahan perilaku, fisik, dan mood.

Untuk mengurangi angka kejadian sindrom ini, temen-temen bisa menerapkan pola makan sehat, mengurangi stres, dan membatasi kafein. Penelitian menyebutkan pengonsumsian coklat dapat mengurangi kejadian PMS. Selain perubahan gaya hidup, pada kasus PMS berat bisa diberikan medikamentosa atau psikoterapi.

Referensi:
Rodiani, R., & Rusfiana, A. 2016. Hubungan Premenstrual Syndrome (PMS) Terhadap Faktor Psikologis pada Remaja. Jurnal Majority, 5(1) : 18-22.

HIMAPSI SEJATI
” Selaras Berjuang Dalam Satu Hati “

————————-

Twitter: @psikologiuns
IG: @psikologi_uns
Line: @qos1543q
Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Ask.fm: psikologiuns

Attachments

[Psikologika] Mengutil = Gangguan Psikologis

[Psikologika] Mengutil = Gangguan Psikologis

Apa kleptomania itu? Kleptomania adalah sebuah gangguan psikologis yang ditandai dengan kebiasaan mencuri barang-barang remeh dan tidak esensial secara kompulsif dan tidak terkendali. Persebaran penderita kleptomania pada populasi kira kira 6 dari 1000 penduduk, dan gangguan ini lebih banyak terjadi pada penderita gangguan psikologis lain. Pada umumnya, gangguan ini dikaitkan dengan gangguan kecemasan, gangguan suasana hati, dan impulsifitas tinggi.

Penyebab patofisiologis dari kleptomania belum diketahui, sedangkan penyebab neurologis yang pernah dikaitkan dengan gangguan ini antara lain: epilepsi, demensia pada lobus temporal depan, trauma kepala, terjadi luka pada otak, dan efek samping hormon SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor). Adapun penyebab psikologisnya antara lain dikemukakan oleh mazhab psikoanalisis dan behaviorisme. Mazhab psikoanalisis mengaitkan kleptomania dengan kehilangan masa kecil atau penekanan secara seksual, sedangkan behaviorisme memandang gangguan ini sebagai perilaku adiktif.

Penanganan yang telah teruji sejauh ini yaitu naltrexon guna menurunkan gejalanya serta topiramat dalam mengelola perilaku impulsif. Di masa mendatang, terapi behavioral kognitif mungkin akan efektif dalam mengatasi kleptomania.

Talih, Farid R. 2011. Kleptomania and Potential Exacerbating Factors

HIMAPSI SEJATI
” Selaras Berjuang Dalam Satu Hati ”
————————-
Twitter: @psikologiuns
IG: @psikologi_uns
Line: @qos1543q
Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Ask.fm: psikologiuns

[Psikologika] Kepribadian dan Motivasi Kerja

Kepribadian sama motivasi kerja, berhubungan gak sih?

Nah temen2 pasti tau kan apa itu teori Big Five Personality? Yak bener banget BFP adalah suatu pendekatan yang digunakan dalam psikologi untuk melihat kepribadian manusia yang tersusun dalam lima buah domain kepribadian yaitu extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuoriticism, openness to experiences.

Dan 3 teori utama motivasi kinerja adalah goal-setting, expectancy, dan motivasi self-efficacy

Ternyata dalam penelitian tymothy dan Remus mengungkapkan bahwa big five personality merupakan sumber penting motivasi kinerja. Dan yang paling bisa meningkatkan motivasi kerja adalah orang dengan kepribadian neurotism dan Conscientiousness.

Neurotism yang berkorelasi paling besar dengan goal setting-motivation.
Neurotisim dan conscientiousness  berkorelasi paling besar dengan expentancy motivation. Sedangkan Extravertion berkorelasi paling besar dg self eficacy-motivation

So tipe sepertia apakah kalian? Selamat meningkatkan motivasi kerja🙌

Sumber :

Timothy A. Judge and Remus Ilies, 2002, Relationship of Personality to Performance Motivation: A Meta-Analytic Review, America:Journal of Applied Psychology
2002, Vol. 87, No. 4, 797–807

HIMAPSI SEJATI
” Selaras Berjuang Dalam Satu Hati ”
————————-
Twitter: @psikologiuns
IG: @psikologi_uns
Line: @qos1543q
Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Ask.fm: psikologiuns

[Psikologika] Neurobic? Demensia? Apa Kaitannya?

[Psikologika] Neurobic? Demensia? Apa Kaitannya?

Dunia abad 21 menghadapi fenomena meningkatnya jumlah dan proporsi penduduk lansia di tiap negara. Salah satu ancaman serius untuk kaum lansia ini adalah demensia, yaitu berkurangnya fungsi memori secara drastis akibat kematian neuron di areal korteks dan hipotalamus pada otak. Kerugian akibat demensia di AS saja diperkirakan sebesar 640 miliar dolar per tahun. Tapi, kini ada sebuah alternatif cara untuk mencegah demensia dan memperbaiki kondisi penderitanya, yaitu NEUROBICS!

Apa itu neurobics? Neurobics adalah seperangkat latihan otak yang melibatkan indera dan perasaan dengan mengubah pola hidup sehari-hari.

Sebuah studi di Thailand mencoba mempraktikkan neurobics pada sekelompok  lansia wanita penderita demensia. Hasilnya, para peserta menunjukkan hasil yang lebih baik secara signifikan. Mengapa??? Karena, dalam neurobics, subjek dilatih untuk mengombinasi pemakaian dua atau lebih indera berbeda setiap hari selama berulang ulang. Perlakuan ini menstimulasi fungsi areal lobus (frontal, parietal, occipital, temporal), diensefalon, dan sistem limbik. Selain itu, neurobics termasuk aktivitas kognitif, yang mampu mengefektifkan stimulasi bagian otak yang mengatur fungsi ingatan dan pemrosesan informasi. Neurobics juga dikemas dalam bentuk-bentuk kegiatan yang santai dan menyenangkan, sehingga peserta merasa rileks dan gembira.


Referensi:
Kanthamlee, Saifon dan Sripankaew, Kanid. (2013). Effect of neurobic exercise on memory enhancement in the elderly with dementia. Journal of Nursing Education and Practice, 4(3).

HIMAPSI SEJATI
” Selaras Berjuang Dalam Satu Hati ”
————————-
Twitter: @psikologiuns
IG: @psikologi_uns
Line: @qos1543q
Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Ask.fm: psikologiuns

[Psikologika] Kualitas Tidurmu dengan Prestasi Belajar

[Psikologika] Kualitas Tidurmu dengan Prestasi Belajar

Aroma UTS memang masih tercium di beberapa perguruan tinggi. Pernah gak sih temen-temennya sampe begadang, pake sistem kebut semalam (SKS)?

Masa Ujian Tengah Semester membuat mahasiswa lebih banyak menghabiskan malam dengan belajar untuk mempersiapkan ujian keesokan harinya. Hal ini justru mengganggu kualitas tidur mereka.

Tahukah kamu? Sering “begadang” justru berpengaruh terhadap prestasi belajarmu.

Hasil penelitian mengungkapkan adanya hubungan antara kualitas tidur dengan prestasi belajar. Semakin tinggi kualitas tidur, semakin tinggi pula prestasi belajar dan sebaliknya semakin rendah kualitas tidur, semakin rendah pula prestasi belajar.

Kualitas tidur dikatakan baik jika tidak menunjukkan tanda-tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam tidur. Kurangnya kebutuhan tidur berdampak pada menurunnya kemampuan untuk berkonsentrasi, inilah yang menyebabkan prestasi belajar seseorang bisa terganggu

Faktor yang mempengaruhi kualitas tidur antara lain penyakit, latihan dan kelelahan, stress, obat, nutrisi, lingkungan, dan motivasi.

Jadi, perbaiki kualitas tidur kalian, jangan biarkan kualitas tidur yang buruk justru menghambat proses kalian memperoleh prestasi. Eits! Tapi jangan malah asyik tidur dan melupakan belajar ya.

Sumber:
Setyowati, dkk. 2015. “Hubungan antara Kualitas Tidur dan Kestabilan Emosi dengan Prestasi Akademik Mahasiswa Aktif Paduan Suara Voca Erudita UNS”. Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa. Vol 4 (1). Hal 68-80.

Nilifda, Hanafi, dkk. 2016. “Hubungan Kualitas Tidur dengan Prestasi Akademik Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Angkatan 2010 FK Universitas Andalas”. Jurnal Kesehatan Andalas. Vol 5 (1). Hal 243-249.

HIMAPSI SEJATI
” Selaras Berjuang Dalam Satu Hati ”
————————-
Twitter: @psikologiuns
IG: @psikologi_uns
Line: @qos1543q
Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Ask.fm: psikologiuns

[Psikologika] Kerasukan dalam Psikologi

[Psikologika] Kerasukan dalam Psikologi

Pernahkan Anda menyaksikan fenomena kesurupan? Atau mungkin Anda/kerabat Anda pernah mengalaminya?

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kesurupan? Bagaimana fenomena ini dibahas dari sudut pandang psikologi?

Kesurupan sering dianggap sebagai masuknya makhluk/roh halus ke dalam tubuh seseorang, sehingga ia dapat berperilaku seperti berteriak-teriak tidak wajar, meraung-raung menyerupai binatang tertentu, hingga memakan pecahan kaca, mengupas kelapa menggunakan mulut, dan sebagainya. Masyarakat Indonesia yang masih kental dengan tradisi klenik dan memercayai roh halus, sangat memercayai hal ini. Padahal sebenarnya fenomena kesurupan dapat dijelaskan melalui perspektif ilmiah.

Menurut aliran psikodinamika dan penganut teori disosiatif, terjadinya kesurupan pada diri seseorang cenderung dikarenakan terdapat keinginan-keinginan yang tidak dapat terpenuhi yang kemudian ditekan ke alam bawah sadar. Selain itu, faktor kepribadian histeria juga ditengarai menjadi salah satu penjelasan dari kesurupan ini. Histeria sendiri merupakan gangguan psikologis, yang dicirikan dengan ketidaksadaran yang terjadi secara tiba-tiba disertai luapan emosi yang tidak terkendali seperti teriak-teriak, menangis, tertawa. Akan tetapi dari penelitian yang dilakukan, justru kesurupan merupakan mekanisme untuk mengekspresikan kebutuhan dan hasrat psikologis yang terpendam dan tidak terpenuhi dalam kehidupan nyata.

Ternyata kesurupan pun memiliki beberapa kategori, yaitu kesurupan religius, kesurupan kuratif, kesurupan hiburan, dan kesurupan patologis.

1. Kesurupan religius merupakan kesurupan yang terjadi dalam lingkup keagamaan, misalnya seseorang daapat kerasukan Roh Kudus sehingga ia dapat bicara/berdoa dalam bahasa yang tidak ia kuasai sebelumnya.

2. Kesurupan kuratif sifatnya untuk penyembuhan, misalnya seseorang yang memunyai “kesaktian” sehingga mampu menyembuhkan penyakit orang lain tanpa melalui tindakan medis.

3. Kesurupan patologis merupakan kesurupan yang menyebabkan stress atau gangguan pada individu. Kesurupan patologis ini terjadi secara tidak sadar dan tidak sesuai dengan norma yang diberlakukan pada masyarakat sekitarnya.

4. Kesurupan hiburan tentunya berorientasi untuk menghiburan. Kesurupan jenis ini banyak di Indonesia, khususnya pada kesenian lokal seperti kledek, jathilan, gendruwon, dan torajan ma’maro. Biasanya orang yang mengalami kesurupan saat melakukan kesenian ini dipicu oleh alunan music (misalnya gamelan) yang dapat memicu orang tersebut masuk lebih cepat ke dalam kondisi tidak sadar. Kesurupan jenis ini menggunakan ritual tertentu, dan sering kali dikaitkan dengan supranatural.

Jadi fenomena kesurupan sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh adanya makhluk halus yang merasuki tubuh, melainkan interaksi dinamis antara kebutuhan psikologis yang terpendam, frustrasi, hasrat, dan faktor sosioreligius.

Sekarang sudah paham kan bagaimana penjelasan ilmiah dari kesurupan?

Sumber:

Rahardanto, M. S., & Subandi. (2012). From acute pain to intense elation: The psychological dynamics of five individuals who experienced spirit posession. Jurnal Psikologi Volume 39, No. 1, 25-45.

HIMAPSI SEJATI
” Selaras Berjuang Dalam Satu Hati ”
————————-
Twitter: @psikologiuns
IG: @psikologi_uns
Line: @qos1543q
Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Ask.fm: psikologiuns

[Psikologika] Wanita dan Stress?

[Psikologika] Wanita dan Stress?

“Wanita lebih memilih menjadikan makan sebagai pelampiasan stress daripada pria”

Hasil penelitian selama tahun 2007 sampai 2010 menyatakan, 31% dari sekitar 900 koresponden wanita menyatakan hal tersebut.
Sedangkan hanya 21% dari sekitar 700 koresponden pada pria yang menjadikan makan sebagai pelampiasan stress.

Wanita juga terbukti memakan lebih banyak dari biasanya atau memakan makanan tidak sehat karena stress daripada pria.

Hal diatas diBuktikan dengan hasil 49% dari wanita dengan jumlah koresponden yang sama.
Dan hanya 30% pada pria.

Dalam jurnal lain dijelaskan bahwa naiknya tekanan darah dan perubahan mood saat stress akan memengaruhi pola makan, terutama pada wanita dan yang tengah diet.

Dalam jangka pendek stres memang dapat mematikan nafsu makan. Struktur dalam otak yang disebut hipotalamus memproduksi hormon corticotropin, yang menekan nafsu makan. Otak juga mengirimkan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepaskan adrenalin. Adrenalin membantu menicu respon “fight or flight” tubuh — kondisi fisiologis yang mengesampingkan kebutuhan akan makanan secara sementara.

Namun, jikaa stres terjadi berkepanjangan, otak justru memerintahkan kelenjar adrenal untuk melepas kortisol, yang berperan dalam peningkatan nafsu makan dan juga motivasi secara umum, termasuk motivasi untuk makan. Stres juga mengacaukan kerja hormon pengatur nafsu makan, ghrelin. Sehingga saat stress berkepanjangan justru makan lebih banyak.

Sumber :
http://www.apa.org/news/press/releases/stress/2010/gender-stress.aspx

Http://www.health.harvard.edu/newsletter_article/why-stress-causes-people-to-overeat

Psychosom Med. 2000 November-Desember; 62 (6): 853-65.
Stres dan makanan pilihan: studi laboratorium.

 

HIMAPSI SEJATI
” Selaras Berjuang Dalam Satu Hati ”
————————-
Twitter: @psikologiuns
IG: @psikologi_uns
Line: @qos1543q
Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Ask.fm: psikologiuns

[Psikologika] Yakin, Cinta Pada Pandangan Pertama?

[Psikologika] Yakin, Cinta Pada Pandangan Pertama?

Jatuh cinta pada pandangan pertama, bener gak sih?

Jurnal psychological science mempublikasikan penelitian dari Janine Wilis dan Alexander Todorov  (2 orang psikolog dari universitas princeton) mengemukakan bahwa “manusia menilai oranglain lewat wajahnya dalam waktu 1/10 detik pertama! 6 detik sisanya dipakai untuk mendukung informasi tersebut.”

Jadi sebenarnya cinta pada pandangan pertama bukan berarti “cinta” namun sekedar “suka” dalam artian ingin melanjutkan interaksi lebih dalam.

Menurut para ahli kejiwaan, cinta merupakan hasil dari interaksi dan tumbuh perlahan dari perasaan suka.

Jadi nanti kalau sudah rajin berinteraksi atau pendekatan-pendekatan rutin (PDKT) rasa suka itu bisa saja berubah jadi cinta💕

Sehingga istilah jatuh cinta pada pandangan pertama, bisa dikatakan lebih tepatnya adalah “doyan/suka pada pandangan pertama”

Sumber :
Praxis, Lex D.  (2011) Dapatkan Cintanya Dibawah 7 Detik. Jakarta : blueprint. Url : https://www.slideshare.net/mobile/angga1980/blueprint-cinta7detik

HIMAPSI SEJATI
” Selaras Berjuang Dalam Satu Hati ”
————————-

Twitter: @psikologiuns
IG: @psikologi_uns
Line: @qos1543q
Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Ask.fm: psikologiuns

[Psikologika] Kemiskinan dan Skizofrenia

[Psikologika] Kemiskinan dan Skizofrenia

♡ Commemorating SCHIZOPHRENIA AWARENESS WEEK (17-25 May 2017) ♡

“Apakah benar kemiskinan dapat menyebabkan skizofrenia dan gangguan mental lain?”

Banyak orang yang beranggapan bahwa orang yang miskin lebih rentan terhadap gangguan skizofrenia. Anggapan yang kurang tepat tersebut muncul karena kemiskinan berkaitan dengan rendahnya pendidikan orang tua, kesehatan fisik, terus pola asuh, gizi makan, dan lain lain. Hasil penelitian yang dilakukan John Read (2010) menunjukkan bahwa kemiskinan bukan merupakan faktor munculnya skizofrenia secara biologis.  Kemiskinan bukanlah faktor yang menyebabkan skizofrenia dan penyakit mental lain, tapi merupakan salah satu trigger yang dapat memperkuat dan memperburuk keadaan gangguan mental.

Beberapa significant risk factors gejala skizofrenia di antaranya kesehatan ibu, nutrisi dan stres selama kehamilan, disfungsi parenting, kekerasan pada masa kanak-kanak (physical atau emotional abuse), keterabaian, trauma, dan bentuk-bentuk diskriminasi lainnya.

Selain itu, treatment terhadap pasien juga dapat menjadi salah satu faktor. Orang yang berada, begitu gejala skizofrenia cenderung akan langsung diatasi dan dirawat dengan benar. Namun pada orang yang memiliki ekonomi rendah akan mengalami cukup kesulitan dalam mengatasi dan merawatnya, sehingga menjadi berlarut-larut dan butuh waktu lama untuk sembuh.

Saat ini, tenaga kesehatan khususnya psikolog dan ahli kedokteran jiwa berupaya untuk menaruh perhatian lebih terhadap faktor-faktor psikososial dari gangguan yang dialami oleh klien, peran farmakoterapi, dan yang terpenting dalam jangka panjangnya, adalah kebutuhan akan program prevensi primer.

Referensi: Read, John. 2010. Can Poverty Drive You Mad? ‘Schizophrenia’, Socio-Economic Status and the Case for Primary Prevention. Auckland: New Zealand Journal of Psychology, 39(2).

————————–

“It is incredibly important that people who have mental ilness are treated with dignity and respect.”

HIMAPSI SEJATI
” Selaras Berjuang Dalam Satu Hati ”
————————-
Twitter: @psikologiuns
IG: @psikologi_uns
Line: @qos1543q
Web: himapsi.fk.uns.ac.id
Ask.fm: psikologiuns