KKPK x BEM FIB UNS

Hasil riset Wearesocial Hootsuite pada tahun 2019 menunjukkan sebanyak 150 juta penduduk aktif menggunakan sosial media atau kurang lebih 56% dari penduduk di Indonesia. Orang-orang Indonesia banyak menghabiskan waktu rata-rata 3 jam 26 menit untuk menggunakan sosial media dengan segala tujuan.

Pengguna sosial media kembali meningkat pada tahun 2020, yaitu sebesar 8% sehingga jumlah pengguna sosial media di Indonesia menjadi 160 juta pengguna. Data unik lainnya, rata-rata penduduk Indonesia memiliki sekitar 10 akun sosial media per orang, baik aktif maupun tidak aktif menggunakannya.

Lalu pada tahun 2021, pengguna sosial media menyentuh angka 170 juta. Angka ini naik 10 juta atau 6,3% dari tahun lalu. Namun, waktu rata-ratanya menurun menjadi 3 jam 14 menit sehari.

Salah satu fitur sosial media, khususnya Instagram, adalah multiple account yaitu memungkinkan memiliki dua akun atau lebih dalam satu aplikasi. Berbicara mengenai Instagram, secara tidak langsung kita telah banyak menemui standar tersendiri bagi seseorang ketika ingin menunjukkan dirinya di sosial media. Penggunaan aplikasinya kini pun tidak hanya sekadar untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk keperluan profesional.

Foto yang estetik, menggunakan pakaian tren, pergi ke tempat populer, foto selfie harus terlihat tirus dan mulus, semua itu banyak ditemukan agar masuk dalam kategori instagrammable. Hal ini pun terkesan menuntut untuk terlihat “sempurna”. Saat awalnya hanya memiliki satu akun yang instagrammable, para pengguna akhirnya ingin membuat akun lain yang “bebas”. Mereka ingin mengekspresikan dirinya dengan bebas tanpa harus khawatir dengan komentar, jumlah penyuka, atau kehilangan kesan “sempurna” dalam hidup mereka.

Dalam penggunaan second account dianggap tidak memiliki standar yang harus dipenuhi karena biasanya berbentuk akun private yang pengikutnya bisa diseleksi terlebih dahulu. Mereka yang sudah terpercaya dan tidak akan merespon negatif yang bisa melihatnya. Selain itu, bisa saja second account berbentuk anonim dan tidak merepresentasikan identitas diri sama sekali karena ingin menggunakan sosial media tersebut secara lebih bebas.

Benarkah seseorang lebih terbuka di second account?
Fenomena penggunaan second account, dapat disimpulkan merupakan bentuk dari pengamanan diri atau self-assurance. Bentuk pengamanan diri tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu perasaan cemas pengguna, anonimitas secara umum, dan pemuasan diri (misal pengekspresian hobi). Kemudian, pengguna akun kedua lebih bisa mengekspresikan diri secara lebih, karena tidak ada alasan untuk cemas jika seseorang mengetahui bahwa pengguna yang mengoperasikan akun tersebut adalah orang yang sama yang dikenalnya di dunia nyata, maupun dekat dengan pengguna yang menggunakan akun utama mereka.
Alasan kecemasan juga diangkat, karena dengan menggunakan akun kedua, pengguna akan merasa lebih tenang karena menilai akun yang digunakan tidak akan berdampak apa-apa terhadap dirinya maupun akun utamanya.

Sisi Ilmu Budaya

Teori Evolusi Kebudayaan
Fenomena seperti ini dirasa sejalan dengan teori evolusi kebudayaan. Evolusi kebudayaan sendiri ialah suatu proses perubahan kebudayaan yang terjadi dalam kurun waktu lama dan menghasilkan suatu gagasan atau pola interaksi masyarakat yang dapat kita amati hingga saat ini.

– Pada 6 Oktober 2010, sang perancang awal bernama Kevin Systrom, Mike Krieger menciptakan Instagram dengan tujuan menyediakan wadah untuk mengunggah foto dan berinteraksi dengan “pengikut” mereka dengan fitur “suka” & “komentar”.
– Sosial media berkembang sebagai sarana self branding. Contoh : seorang “selebgram” bernama awkarin. Tepat pada tahun 2016, Karin Novilda atau yang kita kenal sebagai ‘awkarin’ mulai muncul sebagai sosok “selebgram” karena kepiawaiannya menyusun dan mengelola feeds Instagram dengan tone warna yang sangat apik.
– Orang mulai berlomba-lomba mempercantik feeds instagramnya dengan tampilan menarik, tone yang serasi, dan apapun itu yang dapat membuat mereka booming. Terlihat perkembangan para pengguna Instagram mulai berlomba-lomba untuk menjadi “sempurna” dalam tampilan first account mereka.
– Awal tahun 2016, pihak developer Instagram menambah fitur account switching, dimana setiap pengguna Instagram dapat membuat lebih dari satu akun pribadi dalam satu aplikasi. Maka dari sinilah, fenomena second account semakin marak.
Dapat disimpulkan bahwa relevansi dari fenomena second account dalam penggunaan Instagram dengan teori evolusi kebudayaan adalah berubahnya skema dan pola interaksi yang ditunjukkan pengguna Instagram dari tahun ke tahun.

Sisi Psikologi
1. Self-Disclosure
Second account biasanya digunakan oleh seseorang untuk mengekspresikan diri lebih bebas dan melakukan pengungkapan diri yang lebih besar. Dalam ilmu psikologi, ekspresi dan pengungkapan diri ini disebut dengan Self-Disclosure. Menurut De Vito pengungkapan diri adalah informasi mengenai diri sendiri, tentang pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang, atau tentang orang lain yang sangat dekat yang sangat dipikirkan.
Manfaat :
– Ekspresi => untuk menumpahkan emosi
– Penjernihan diri
– Keabsahan sosial => mendapat tanggapan dari orang lain mengenai perilakunya
– Kendali sosial => mampu mengemukakan atau menyembunyikan informasi diri untuk kepentingan pribadinya
– Perkembangan hubungan => dengan berbagi informasi, hubungan antar individu semakin akrab dan intim
2. Presentasi diri atau manajemen impresi
Teori dari ilmu psikologi ini untuk menjelaskan mengapa orang lebih ekspresif di sosial media. Menurut Goffman, presentasi diri dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan kesan tertentu di depan orang lain dengan cara menata perilaku agar orang lain memaknai identitas dirinya sesuai dengan apa yang ia inginkan.

Untuk itu, mari lakukan langkah-langkah bijak dalam bersosial media!
1. Selektif dalam membagi informasi pribadi di sosial media
2. Perhatikan etika/norma ketika bersosial media.
3. Hati-hati dalam memilih teman di sosial media (hindari akun-akun yang tidak dikenal).
4. Hindari memposting konten yang berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).
5. Hindari plagiarisme dan selalu cek kebenaran sumber yang kita kutip dalam postingan kita.
6. Gunakan sosial media untuk hal-hal positif.
7. Jagalah ekosistem sosial media tetap sehat.

Kesimpulannya, penggunaan second account adalah salah satu upaya seseorang untuk lebih mengekspresikan dirinya tanpa merasa terbatasi. Namun, perlu dipahami bahwa sosial media tetaplah platform umum yang perlu dikendalikan dalam pemakaiannya.

Bagaimanakah penggunaan second account yang baik menurut pengalaman kalian?

SUMBER:
Adhitomo, Febrian Nur. 2013. Analisis Segmen Remaja Berdasarkan Perilaku dalam Penggunaan Sosial media. Yogyakarta: Jurusan Ekonomi dan Manajemen UGM.
Aini, Qurrota & Noor Efni Salam. (2014). Presentasi Diri “Ayam Kampus” (Studi Dramaturgi Mengenai Perilaku Menyimpang Mahasiswi di Pekanbaru). Jurnal Online Mahasiswa, 1(1), 1-14
Chairunnisa. (2018). Pengaruh Kesadaran Diri dan Anonimitas Terhadap Keterbukaan Diri Pengguna Sosial media. Skripsi. Fakultas Psikologi, UIN Syarif Hidayatullah
Devito, Joseph. (2011). Komunikasi Antar Manusia. Tangerang Selatan: Karisma Publishing Group.
Harmoko, Kezia K. (2020). Kenapa sih Pada Punya Second account Instagram : Fenomena second account sebagai alter-ego kaum muda. https://www.mainmain.id/r/5508/kenapa-sih-pada-punya-second-account-instagram
Karja. 2020. Mengapa Netizen Menjadi Lebih Real di Akun Kedua Sosial media Mereka?. . (Diakses pada tanggal 12 Juli 2021 pukul 19:54).
Kilamanca, Desiana Fiskarani. (2010). Hubungan Antara Kebutuhan Afiliasi dan Keterbukaan Diri Dengan Intensitas Mengakses Situs Jejaring Sosial Pada Remaja. Skripsi. Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret Surakarta
Pamungkas, Intris Restuningrum dan Nuriyatul Lailiyah. 2019. Presentasi Diri Pemilik Dua Akun Instagram di Akun Utama dan Akun Alter. Semarang: Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Diponegoro.
Permata, Eri Husna. (2017). Instagram dan Presentasi Diri (Analisis Kuantitatif Hubungan Penggunaan Sosial media Instagram Dengan Presentasi Diri Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTIRTA Angkatan 2013-2015). Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *