Penyebab gangguan jiwa pada seseorang dapat disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor genetik memegang kunci utama penyebab internal seseorang mengalami gangguan kejiwaan, sedangkan faktor pemicunya dari luar merupakan gaya pengasuhan (nurture) dan sosial budaya tempat tinggal individu.
Dalam kajian ilmu psikologi, faktor sosiokultural juga menjadi perspektif dalam memandang suatu perilaku abnormal, yang mana penyakit sosial dapat berkontibusi terhadap perkembangan perilaku abnormal seseorang ditinjau dari kelompok etnis, gender, budaya serta tingkat sosioekonominya. Tekanan sosial dapat menjadi stressor tersendiri bagi sebagian orang ataupun kelompok masyarakat sehingga muncul pola perilaku abnormal dalam suatu budaya. Untuk menghadapi stressor lingkungan, seseorang cenderung mengerahkan pertahanan psikologis (Psychological defense) dan juga pertahanan budaya (culture defense) yang tercermin dalam sistem kepercayaan. Reaksi yang ditimbulkan dari stressor tersebut menjadi faktor penentu bagi timbulnya gangguan kejiwaan seseorang. Gejala yang ditimbulkan dapat ditoleransi, ataupun dianggap menyimpang. Individu pembawa gejala yang menyimpang tampak sangat menderita. Kelompok diagnostik ini lebih dikenal dengan sebutan culture bound syndrome. Menurut ICD-10 dan DSM-IV culture bound syndrome–CBS adalah varian lokal dari kategori gangguan yang sudah ada, dengan manifestasi yang dipengaruhi budaya setempat. atau varian lokal dari gangguan anxietas, depresi, somatoform, gangguan penyesuaian. CBS yaitu suatu “sindrom sakit jiwa yang diakibatkan karena kondisi lingkungan budaya dimana si penderita tinggal” dan hanya terbatas pada budaya tertentu serta diberi nama oleh budaya tersebut. Maslim (1987 dalam Arianto 2004:5-8) pemberian nama gangguan jiwa biasanya sesuai dengan budaya mereka masing-masing.
Berikut ini beberapa contoh sindrom terikat budaya pada beberapa negara di dunia :
1) Amok
Gangguan umum yang muncul pada pria di Asia Tenggara dan Kepualauan Pasifik,dan budaya di Puerto rico dan Navajo di Barat. Amok merupakan bentuk disosiatif dimana menggambarkan orang-orang yang tiba-tiba mengamuk dan menyerang orang lain, bahkan terkadang juga melakukan pembuuhan. Penderita dapat tiba–tiba mengamuk, berteriak, merusak, membunuh, berlarian, tanpa sebab tapi diawali dengan melamun dan sedih lalu diakhiri dengan lelah, amnesia dan kemudian sering bunuh diri. Selama episode tersebut berlangsung seseorang merasa bergerak secara otomatis, dan kekerasan yang dilakukannya terhadap objek disekitarnya cenderung disertai dengan persepsi penganiayaan. Gangguan ini disebut sebagai running amock dalam budaya barat, yang artinya episode hilangnya kesadaran diri dan munculnya kekrasan pada diri seseorang. Dalam Bahasa Malaysia, amok disebut sebagai amoq (berperang dengan garang).
2) Ataque de nervios
Reaksi distress emosional yang ditunjukkan dengan ciri seperti berteriak tanpa kendali, menangis tersedu-sedu, gemetar, merasa hangat atau panas yang berpindah dari dada menuju kepala, serta perilaku verbal maupun fisik yang agresif. Episode ini dapat dicetuskan karena kejadian yang memicu stress terkait anggota keluarga dan disertai perasaan hilang kendali. Individu yang mengalami ganguan ini mungkin mengalami amnesia ketika dirinya berada pada episode serangan tersebut. Gangguan ini sering dijumpai di budaya Amerika Latin dan Mediterania Latin.
3) Sindrom Dhat
Suatu gangguan yang dialami oleh laki-laki di India yang melibatkan perasan ketakutan serta kekhawatiran yang intens akan kehabisan air mani melalui mimpi basah, ejakulasi, atau keluar bersama urin. Dalam budaya India, terdapat kepercayaan yang sangat popular yakni kehilangan air mani dapat menghabiskan energi alami vital laki-laki. Kepercayaan Hindu menganggap air mani adalah sesuatu yang harus dilestarikan, dan dianggap sebagai obat yang mujarab, oleh karena itu beberapa laki-laki di India merasa kecemasan yang ekstrem akan hilangnya air mani secara tidak sengaja melalui buang air di malam hari.
4) Jatuh Pingsan atau Tidak Sadarkan Diri
Gangguan ini banyak ditemukan di Amerika selatan dan Karibia. Perilaku yang ditunjukkan berupa tiba-tiba jatuh lemas dan pingsan mendadak. Serangan bisa terjadi tanpa gejala awal seperti pusing atau perasaan mengambang dikepala. Walau mata terbuka, individu bisa saja tidak melihat, selain itu ia juga bisa mendengar orang lain dan memahami apa yang terjadi tapi merasa tidak berdaya untuk bergerak.
5) Ghost Sickness
Di temukan pada populasi Amerika Indian. Gangguan ini melibatkan fokus dengan kematian dan roh orang mati. Simtom yang ditunjukkan berupa mimpi buruk, merasa lemah, hilangnya nafsu makan, ketakutan, kecemasan dan adanya firasat buruk. Kemungkinan juga muncul halusinasi, hilang kesadaran dan keadaan kebingungan
6) Koro
Kecemasan akut disertai ketakutan bahwa alat kelamin seseorang (Penis pada laki-laki dan vulva serta puting pada perempuan) menyusut dan melesak ke dalam badan dan berakibat pada kematian. Tingkat keparahannya tergantung taraf waham dari penderita. Penderita biasanya berusaha dengan cara memegang, mengikat atau mengikatkan pada benda lain dan lain-lain agar tidak masuk ke dalam tubuh. Ditemukan di Cina dan Asia Selatan dan Timur.
7) Zar
Istilah yang muncul di Afrika Utara dan Timur Tengah untuk menggambarkan pengalaman kerasukan roh. Gangguan ini ditandai oleh periode teriakan, membenturkan kepala ke dinding, tertawa, menyanyi atau menangis. Orang-orang ini mungkin tampak bersikap masa bodoh atau menarik diri menolak makan atau tidak melakukan tanggung jawab yang biasa.
8) Taijin-kyofu-sho
Ditemukan di Jepang. Sindrom psikiatrik yang melibatkan ketakutan berlebihan karena menyinggung atau membuat malu orang lain. Takut bahwa ia akan menggumamkan pikirannya dengan suara keras, kalau2 ia secara tidak sengaja menyinggung orang lain.
9) Hikikomori
Ditemukan di Jepang. Biasanya dialami anak muda. Sindrom penarikan sosial secara ekstrem. Rata-rata berusia 13-15 tahun, pada suatu hari masuk ke kamar mereka dan tidak mau keluar lagi hingga bertahun-tahun yang pada banyak kasus bertahan hingga lebih dari 10 tahun.Masuk kamar dan tidak keluar lagi. Meninggalkan dan menutup diri dari dunia luar. Kebanyakan menghabiskan waktu dengan bermain game atau musik, atau menghabiskan waktu di depan komputer dan entah apa lagi yang mereka kerjakan di dalam kamarnya.
Selain itu, di Indonesia sendiri pun memiliki berbagai istilah untuk menggambarkan pola perilaku abnormal dalam suatu budaya, seperti kesurupan, Bebainan (Bali), Cekik (Jawa Tengah), Koro (Sulawesi Selatan), amok, latah, Gemblakan (Jawa Timur), dan Ludruk (Jawa Timur).
Terjadinya gangguan terikat budaya tersebut dapat disebabkan oleh stress budaya. Stressor tersebut dapat diperoleh dari adanya perubahan budaya yang cepat dan penyakit kejiwaan kehilangan budaya lama dan kontak dan interaksi antar budaya, misalnya pernikahan antar suku, agama, ataupun transmigrasi. Dari berbagai riset dalam studi Etnopsikiatri di Indonesia berkaitan dengan stres budaya, salah satu penemuannya adalah penelitian oleh Gunawan (1980) yang telah mengidentifikasi beberapa kasus stress budaya pada masyarakat Irian Jaya, didapatkan hasil faktor yang dapat memunculkan berbagai gangguan jiwa, yaitu:
– urbanisasi (perubahan pola hidup),
– perbedaan budaya antara penduduk pendatang dan asli,
– suami-istri dengan tingkat pendidikan dan latar belakang sosio-budaya yang berbeda,
– konflik antara generasi tua dan muda,
– pelanggaran terhadap adat (tabu), dan
– kepercayaan terhadap ilmu hitam.

Referensi :
Nevid, J., Rathus, S. & Greene, B. (2018). Abnormal Psychology in A Changing World. Pearson.
Griffiths, M. D. (2015, October 22). Dhat Syndrome Explained. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/in-excess/201510/dhat-syndrome-explained
https://www.psychologymania.com/2011/09/patologi-terkait-budaya-culture-bound.html
https://www.kompasiana.com/sofiatrititohidayati/54f3d1df745513992b6c8122/gangguan-psikotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *