Akhir-akhir ini banyak peristiwa yang terjadi di Indonesia, yang mungkin resmi disepakati sebagai peristiwa yang menyedihkan, yang seharusnya mungkin bisa dicegah sebelum terlanjur terjadi. Mulai dari kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan dan Sumatra, yang membuat satwa terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Belum lagi masalah Revisi Undang-undang yang berbuntut panjang dengan aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di seluruh daereh di Indonesia.

Dilansir dari Liputan6.com, puncak dari aksi ini terjadi pada tanggal 24 September 2019. Dari peristiwa ini, banyak demonstrasi yang tidak berjalan lancar dan menyebabkan adanya korban luka di beberapa daerah tempat dilakukannya demonstrasi. Sampai tulisan ini diproduksi, gejala-gejala dari demonstrasi masih terdeteksi untuk kembali muncul. Demonstrasi mulai diserukan setelah anggota DPR resmi mengesahkan Revisi Undang-Undang KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) 17 September 2019 silam. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa RUU yang rencananya juga akan disahkan diantaranya RUU KUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Sumber Daya Air, RUU Pertanahan, dan tuntutan untuk mengesahkan RUU PKS.

Seruan munculnya kegiatan demonstrasi ini bukan tanpa sebab. Dengan perasaan serupa yang saling dirasakan, saling punya tujuan yang sama, dan merasa bahwa ada ideologi yang harus diperjuangkan muncul dari setiap individu demonstran yang terlibat dengan bersamaan. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana perasaan itu dapat muncul? Bahkan muncul secara bersamaan dari orang-orang yang tidak saling mengenal sekalipun? Peristiwa inilah yang sering disebut sebagai collective action atau collective behavioral atau perilaku kolektif.

Berdasarkan teori dalam psikologi sosial yang juga diperdalam di sebuah jurnal internasional (Research on Humanities and Social Sciences) dengan judul Collective Behavior and Social Movements: A Conceptual Review, collective action diartikan sebagaiperilaku yang relatif spontan dan tidak terstruktur dari kelompok orang yang bereaksi terhadap pengaruh umum dalam situasi ambigu. Dalam penjelasan jenisnya sendiri collective action terbagi atas beberapa. Namun, dalam kasus demontrasi yang terjadi baru-baru ini jenis solidaristic crowd dianggap paling cocok untuk hal tersebut. Solidaristic crowd diartikan sebagai kesatuan massa yang munculnya karena didasari oleh kesamaan ideologi. Dalam hal ini ideologi dapat diartikan sebagai hal-hal yang mungkin muncul setelah beberapa rancangan undang-undang tersebut disahkan oleh DPR, yang dianggap merugikan mengekang, dan mengancam kebebabsan hak sebagai warga negara.

Kemudian apakah collective action ini selalu bergerak pada hal-hal yang negatif? Karena jika ditinjau dari contoh demonstrasi yang baru saja terjadi mereka terlibat terlihat seperti orang-orang yang agresif dan sangat memiliki emosi kemarahan yang tinggi? Jawabannya adalah tidak. Karena sebenarnya collective action dapat sangat dimanfaatkan untuk kebaikan, bergantung pada niat dan tujuan dari pelakunya. Meskipun sifatnya spontan dan tidak terstruktur, namun perilaku ini masih tetap dapat diatur dan dikendalikan.

Jika begitu bukankah ini memberikan jawaban yang sangat jelas? Dengan adanya collective action dapat sangat membantu kita karena tanpa susah payah kita dapat mengumpulkan massa yang jumlahnya sangat banyak untuk ‘memprotes’ dalam hal ini kebijakan pemerintah, namun kita juga mampu membuat kelompok ini bekerja maksimal tanpa harus anarkis dan berujung pada konflik dan perkelahian.

Maka dari itu, ayo ber-collective action bersama, selamatkan manusia dari manusia, namun jangan lupa bahwa kita juga adalah manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *