If There is Will There is Way

Halo pemuda! Kemarin kita memperingati Hari Sumpah Pemuda nih. Enggak jauh-jauh dari topik itu, kali ini Kafein mau bahas sesuatu yang deket banget sama kalangan milenial. Yup! Revolusi Indsutri 4.0. Yakin, kamu pasti sudah sering mendengar istilah Revolusi Industri. Tahu nggak sih, siapa pencetusnya? Jadi, istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui pada pertengahan abad ke-19. Dalam perkembangannya, revolusi ini sudah mencapai titik ke 4.0. Gimana sih perkembangannya?

Jadi, fase pertama (1.0) terjadi saat mesin ditemukan. Hal ini kemudian menjadi tumpuan mekanisasi produksi. Fase kedua (2.0) sudah beranjak pada tahap produksi massal yang terintegrasi dengan quality control dan standarisasi. Nah, fase ketiga (3.0) masuk pada masa keseragaman secara massal yang bertumpu pada integrasi komputerisasi. Fase keempat (4.0) sendiri telah menghadirkan digitalisasi dan otomatisasi perpaduan internet dengan manufaktur (BKSTI 2017).

Temen-temen tahu nggak sih kalau Indonesia punya mimpi yang ingin diwujudkan pada 100 tahun kemerdekaannya? Jadi gini, di tahun 2045 itu, Indonesia mencapai usia 100 tahun merdeka dan itu digadang-gadang untuk menjadi tahun emasnya Indonesia. Nah generasi Y dan generasi Z itu adalah generasi emas yang digadang-gadang menjadi “pewujudnya”. Lewat Revolusi Industri 4.0 ini, peluang pencapaiannya besar karena generasi emasnya “melek” teknologi, dan ini satu hal yang sangat penting di Revolusi Industri 4.0. Masalahnya, generasi ini nggak semua tahu, Indonesia mau ngapain dan mau gimana (lebih lengkap, temen-temen bisa cek di platform www.indonesia2045.org). And, Here We Are!

Pada era ini, potensi Indonesia menjadi lebih besar di dunia. Gimana bisa? As we know, Indonesia merupakan salah stau dari empat negara besar dengan jumlah penduduk sekitar 260 juta penduduk yang terdiri dari multikultural dan terbagi pada daerah kepulauan yang terpisah jarak, ruang, dan waktu. Lebih menarik lagi, mayoritas penduduknya ada pada rentang usia 15-64 tahun, di mana usia tersebut merupakan usia produktif (Indonesia-invesment, 2017).

Kamu pasti sudah sering dengar tentang bonus demografi. Secara sederhana bonus demografi dapat diartikan sebagai peluang (window of oppurtunity) yang dinikmati suatu negara akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif. Bonus demografi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita. Struktur penduduk yang didominasi usia produktif berpotensi meningkatkan tabungan dan meminimalkan konsumsi.

Lewat rovolusi ini, beberapa elemen penting menjadi perhatian dan akan dilaksanakan kemenristekdikti untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa. Apa kaitannya degan ekonomi bangsa? Dalam perkembangannya, revolusi 4.0 memunculkan ekonomi berbasis teknologi atau yang lebih dikenal dengan ekonomi digital. Berdasarkan data Menteri Keuangan Sri Mulyani, lebih 85 juta penduduk Indonesia menggunakan jaringan internet. Di sinilah Indonesia mempunyai peluang dalam e-commerce dan pengembang ekonomi digital (Detiknews, 3/2/2018).

Nah, temuan McKinsey (2016) menunjukkan bahwa dampak dari digital technology menuju Revolusi Industri 4.0 dalam lima tahun ke depan, akan ada 52,6 juta jenis pekerjaan yang mengalami pergeseran atau hilang dari muka bumi. Artinya, seseorang yang masih ingin memiliki eksistensi dalam kompetisi global harus mempersipakan mental dan skill yang unggul (competitive advantage) dari yang lainnya. Hal yang perlu dimiliki adalah behavioral attitude, kompetensi diri yang unggul dan semangat literasi. Kita bisa mendapatkan hal tersebut melalui long life education dan konsep diri melalui pengalaman bekerjasama lintas generasi/lintas disiplin ilmu, seperti kata pepatah lama, experience is the best teacher.

Industri memegang peranan penting bagi pembangunan ekonomi di semua sektor kehidupan, dan tanggungjawab pemerintah/pemilik industri adalah pemerataan pertumbuhan sebuah industri. Hal ini dikarenakan industri mampu memberikan manfaat sebagai berikut: pertama, industri memberikan lapangan kerja di mana ia didirikan. Kedua, industri memberikan tambahan pendapatan tidak saja bagi pekerja atau kepala keluarga, tapi juga anggota keluarga lain. Ketiga, industri mampu memproduksi barang-barang keperluan penduduk setempat dan daerah secara lebih efisien atau lebih murah (Eni Fitriawati, 2010).

Teknologi digital akan menciptakan 3,7 juta pekerjaan baru dalam 7 tahun mendatang dan mayoritas bergerak pada sektor jasa. Namun, berkaca dari sejarahnya, awalnya, teknologi dibuat untuk membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaanya. Perlahan, teknologi menjadi mitra manusia hingga sekarang, teknologi nyaris atau bahkan sudah menjadi tuan dari manusia. Hal ini menjadi satu alasan kuat mengapa kemudian manusia perlu melakukan persiapan dalam menghadapi Revolusi Industri ketika ujung dari kemajuan teknologi menunjukkan teknologi dapat mengalahkan manusia itu sendiri. Implikasi Revolusi Industri memiliki dua sisi. Satu sisi bernilai positif bagi produktivitas hasil kerja dan efisiensi proses produksi. Di sisi lain, kompetitifnya dunia kerja yang berujung pada banyaknya tenaga kerja tidak terpakai akan menjadi masalah sosial bagi stabilitas negara.

Peran industri yang begitu besar di atas (3 manfaat industri oleh Eni Fitriawati) dan menyangkut hajat hidup masyarakat dapat disebut sebagai modal sosial. Namun apabila modal sosial tersebut dikelola pada perspektif pemilik modal yang selalu bertumpu pada profit oriented dengan cara efisiensi pekerja dan itu secara perlahan menghilangkan makna modal sosial, maka sesungguhnya revolusi industri pada fase berapapun akan berujung pada revolusi sosial yang menyebabkan kekacauan sebuah pemerintahan. Oleh karenanya, tantangan bagi manusia adalah  peningkatan keahlian diri (skill) yang harus ditingkatkan dengan cara yang tepat pula dan kemauan untuk melakukan inovasi secara berkelanjutan (suistanable).

Revolusi Industri yang mengedepankan tata nilai pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan akan mampu membangun kerukunan dan kerja sama yang sinergi guna berkembangnya ekonomi masyarakat. Seperti halnya pendapat Boourdeou yang menyatakan bahwa modal ekonomi bukanlah modal dari segala modal. Tapi membangun mental/karakter (character building) suatu masyarakat adalah potensi ekonomi yang mampu mengalir dalam struktur sosial, sehingga dapat dijadikan dasar untuk bergerak bagi Revolusi Industri tersebut ke arah kemanfaatan.

Kunci keberhasilan memasuki Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi mental demi perbaikan karakter bangsa. Revolusi mental adalah gerakan bersama menyadarkan diri betapa pentingnya meningkatkan kompetensi diri melalui pendidikan dan meningkatkan potensi diri melalui pelatihan. Pendidikan dan pelatihan terhadap setiap disiplin ilmu menjadi dapat mengantarkan bangsa Indonesia sukses memasuki era strategis.

Menaikkan derajat kompetensi diri dan potensi diri secara linear akan meningkatkan pula kesejahteraan. Sintesa dari Revolusi Industri 4.0 dan revolusi mental pada akhirnya dapat ditarik benang merah bahwa Revolusi Industri 4.0 akan melahirkan masyarakat sejahtera dalam pembangunan, sedangkan revolusi mental melahirkan manusia yang berkualitas dan unggul.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *