“So, your kids must love the iPad?” I asked Mr. [Steve] Jobs, trying to change the subject. The company’s first tablet was just hitting the shelves. “They haven’t used it,” he told me. “We limit how much technology our kids use at home.”

(Nytimes article, Sept. 10, 2014)” -Nick Bilton.

Indonesia adalah negara pengguna internet terbesar di Asia Tenggara, tidak heran jika negara kita adalah target pemasaran  gadget saat ini. Berdasarkan data statistik dari Mediacells, Indonesia meraih angka 46 juta dalam penjualan gadget dan 39,8 juta pengguna baru. Data penjualan gadget ini menunjukkan bahwa pesatnya perkembangan  gadget di Indonesia. Kondisi ini juga diakui oleh raksasa mesin pencari Google yang sudah melakukan survei seputar penetrasi pengguna gadget di Indonesia. Dibandingkan data tahun 2014, penetrasi mencapai 28 persen dan pada tahun 2015 mencapai 2 kali lipat (Yusmi, 2015).

Melihat fenomena yang akhir-akhir ini terjadi terkait meningkatnya pasien salah satu rumah sakit jiwa di Jawa Barat, berikuti merupakan penjelasan dari Direktur RSJ tersebut. Menurut Elly, pada zaman dulu, usia paling muda yang mengalami kecanduan gawai berada pada usia 15 tahun, namun saat ini anak dengan usia 5 hingga 8 tahun juga mengalami. Hal inilah yang menyebabkan anak usia 5 tahun mengalami masalah kejiwaan. Elly juga menjelaskan penyebab dari fenomena ini adalah adanya akses berlebih yang diberikan oleh orang tua kepada anak sehingga timbul ketergantungan anak terhadap gadget. Selain itu, beliau menambahkan bahwa peran keluarga sangatlah penting dalam hal ini, perlu ada penjelasan yang tepat sasaran terkait fungsi gadget kepada anak-anak.

Menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh individu pada fase-fase kehidupan. Individu akan mencapai kebahagiaan ketika berhasil mencapai tugas-tugas tersebut, begitupun sebaliknya. Anak usia sekolah memiliki tugas perkembangan yaitu belajar ketangkasan fisik untuk bermain, pembentukan sikap diri yang sehat tehadap diri sendiri, belajar bergaul yang positif dengan anak sebaya, belajar peranan jenis kelamin, belajar mandiri, mengembangkan dasar keterampilan calistung, mengembangkan pengertian dasar dalam kehidupan sehari-hari, dan mengembangkan peran hati nurani dan skala nilai-nilai. Hal kemudian menunjukkan bahwa kehidupan sosial anak penting untuk digaris bawahi.

Hal-hal yang mendasari penggunaan gadget pada anak dalam temuan Savitri, Kholis, dan Zunaidah berasal dari keinginan orang tua untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka saat tidak sedang bersama, untuk membuat anak mau menuruti keinginan orang tua, meniru kebiasaan orang tua.


Temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Savitri, Kholis, dan Zunaidah (2019) menunjukkan:

a. Anak-anak yang cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitar karena bermain gadget membuat mereka tidak berinteraksi dengan orang lain.

b. Anak-anak yang menjadikan gadget sebagai syarat melakukan sesuatu cenderung tidak bisa mematuhi perintah orang tua, menerima informasi dengan baik dan kurang dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang tua.

c. Anak-anak yang lebih sering bermain bebas dengan gadget tanpa batasan waktu akan menyebabkan tidak memiliki waktu untuk membangun hubungan harmonis dengan orang tua sehingga dimungkinkan orang tua akan kesulitan mengontrol anak yang sudah kecanduan gadget.

Kebutuhan anak akan gadget dipengaruhi usia serta perkembangan teknologi sehingga peran pendampingan orang lebih tua menjadi kunci pembatasnya. Pendampingan yang baik menurut De Vito adalah dengan disertai dengan prinsip keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif dan kesetaraan.

a. terbuka terhadap penggunaan gadget dan perkembangan teknologi sehingga anak tidak kehilangan kepercayaan terhadap orang tua.
b. empati antara anak dengan orang tua dapat memunculkan pemahaman kepada satu sam lain.
c. Sikap mendukung dari orang tua terhadap penggunaan gadget yang positif anak juga mendorong anak dengan memunculkan rasa tanggung jawab atas pilihan dan perilaku yanng ditunjukkan.

d. sikap positif orang tua melalui pendampingan dalam penggunaan gadget seperti meluangkan waktu bersama serta membeirkan pembimbingan dan pengawasan.

e. kesetaraan dalam interaksi yang ada antara orang tua dan anak dapat membangun hubungan yang interaktif. dengan ini, anak dapat memiliki ruang untuk berbicara dan berpendapat serta dapat membuat andak tetap dibersamai dengan batasan yang jelas.

Pendampingan dialogis (Fadilah, 2011) dari orang tua sangat diperlukan untuk meminimalisir anak dari pengaruh negatif penggunaan gadget. apabila anak sedang menggunakan gadget orang tua harus mendampingi anaknya, mengarahkan untuk membuka fitur-fitur yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Pendampingan yang dimaksud adalah orang tua tidak hanya melihat anaknya yang sedang bermain gadget, akan tetapi orang tua harus mampu menjadi guru bagi anaknya. Gadget dijadikan media untuk menstimulasi anak. Misalnya, fitur-fitur yang sesuai dengan anak bisa dikembangkan untuk bahan diskusi supaya anak tidak terlalu fokus pada gadgetnya, dengan penerapan seperti itu, anak dilatih untuk tetap berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (Fadilah, 2011).

referensi:

Dinillah, Mukhlis. (2019). Artikel. Duh! Gegara Kecanduan Gadget, Bocah 5 Tahun di Jabar Alami Masalah Kejiwaan. Dalam https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4741179/duh-gegara-kecanduan-gadget-bocah-5-tahun-di-jabar-alami-masalah-kejiwaan diakses pada 18 November 2019.

Savitri, G. A. , Kholis, N., & Zunaidah, A. (2019). Pola Interaksi Orang Tua dan Anak di Perkotaan dalam Menghadapi Dampak Negatif Penggunaan Gadget. Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 20 (1), 15-20.

Yusmi, Warisyah. (2015). Pentingnya “Pendampingan Dialogis” Orang Tua Dalam Penggunaan Gadget Pada Anak Usia Dini. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan. Diakses dari http://seminar.umpo.ac.id/index.php/semnasdik2015/article/view/212/0.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *