Pernahkah Anda merasakan serunya bicara dengan diri sendiri? Seberapa sering? Atau sangat merasa nyaman terisolasi dari dunia luar karena imajinasi kamu terasa lebih menyenangkan? Sebagai tambahan, apakah kamu sering, secara sadar atau tidak, berekspresi secara berlebihan terhadap khayalan kamu sendiri? Hati-hati ya, karena mungkin kamu sedang mengalami Maladaptive Daydreaming.

Maladaptive Daydreaming.

Apa itu Maladaptive Daydreaming?
Maladaptive Daydreaming merupakan gejala gangguan psikologi (belum tergolong kedalam penyakit gangguan mental) yang menyebabkan pengidapnya berkhayal dalam waktu yang lama, sehingga mengabaikan hubungan dan kewajiban di dunia nyata. Gejala Maladaptive Daydreaming ini ditandai dengan kesulitan berinteraksi dengan lingkungannya, mengalami insomnia, dan ketidakmampuan melakukan tugas sehari-hari karena susah fokus.

Penyebab Maladaptive Daydreaming dapat terjadi ketika seseorang mengalami trauma, kekerasan, maupun kesepian. Mereka mencari cara untuk ‘kabur’ dari penderitaannya dengan cara berkhayal selama berjam-jam. Perbedaan berkhayal biasa dengan berkhayal maladaptif terletak dari bagaimana khayalan ini dapat membuat keterikatan emosional yang kuat dengan individu. Keterikatan emosional biasanya dapat menggantikan perasaan sakit hati atau trauma di dunia nyata. Hal ini malah mengakibatkan penderita mengalami tekanan klinis dan gangguan fungsi kesehatan seperti, ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), depresi, OCD (obsessive-compulsive disorder).

Berikut cara mencegah Maladaptive Daydreaming dapat dilakukan dengan cara :
1. Cobalah untuk lebih terbuka kepada teman atau keluarga tentang masalah yang dihadapi dan mintalah bantuan agar mereka mengingatkan pengidap saat pengidap mulai berkhayal.
2. Pasang alarm secara berkala (misalnya setiap 15 menit) untuk membantu pengidap segera sadar dari khayalannya melalui suara alarm.
3. Istirahat yang cukup, karena kelelahan dapat memicu datangnya khayalan lebih cepat dibandingkan berada dalam kondisi tubuh yang prima.
4. Identifikasi pemicu munculnya khayalan.
5. Alihkan “pelarian diri” terhadap masalah yang dihadapi kedalam kegiatan lain yang positif.
6. Lakukan terapi dengan therapist jika kamu merasa kesulitan mengidentifikasi gejalanya sendirian.
7. Penyembuhan melalui konsumsi obat – obatan (setelah melalui tahap terapi) dengan anjuran dokter.

Sumber :
Sering Melamun Berjam-Jam? Mungkin Anda Menderita Maladaptive Daydreaming. (n.d.). Retrieved October 28, 2021, from https://www.sehatq.com/artikel/maladaptive-daydreaming-ketika-seseorang-kecanduan-melamun
Soffer-Dudek, N., & Somer, E. (2018). Trapped in a daydream: Daily elevations in maladaptive daydreaming are associated with daily psychopathological symptoms. Frontiers in Psychiatry, 9(MAY). https://doi.org/10.3389/FPSYT.2018.00194/FULL
Tapu, M. (2016). Maladaptive daydreaming. In Psychologist (Vol. 29, Issue 12, p. 891).

Leave a Reply

Your email address will not be published.