Gangguan factitious adalah gangguan mental atau psikologis yang menyebabkan seseorang memalsukan/mengada-ada/mengarang berbagai simtom fisik dan/atau psikologis tanpa memiliki motif atau alasan yang jelas.
Gangguan factitious dibedakan menjadi dua subtipe utama yakni factitious pada diri sendiri dan factitious pada orang lain. Dalam film Run (2020) yang disutradarai Aneesh Chaganty, film ini dibintangi Sarah Paulson dan Kiera Allen. Pada film ini dapat dilihat bahwasannya sang ibu dalam film ini memiliki indikasi mengalami factitious pada orang lain atau yang disebut dengan Munchausen syndrome by proxy. Lalu apakah itu Munchausen syndrome by proxy ?
Munchausen syndrome by proxy adalah bentuk pelecehan anak yang kompleks dan berpotensi fatal di mana orang tua atau wali (biasanya ibu) berulang kali menginduksi gejala fisik atau psikologis pada anak untuk mensimulasikan penyakit tertentu. Bisa dikatakan mereka dengan sengaja memalsukan dan/atau menginduksi penyakit pada orang lain secara fisik maupun emosional. Gangguan subtipe ini masih bersifat kontroversi dalam labeling sebagai gangguan psikologis atau tindak kekerasan dan kejahatan.
Gejala secara umum dari Munchausen
– Memiliki riwayat pernah melakukan berbagai macam tes kesehatan, prosedur medis, bahkan operasi yang sebenarnya tidak saling berhubungan dengan kondisi kesehatan.
– Merasakan berbagai gejala penyakit yang tidak saling berhubungan satu sama lain.
– Meski telah melalui pemeriksaan medis secara intensif, tidak ditemukan gangguan kesehatan yang signifikan.
– Gejala baru yang berbeda-beda, namun setelah tes medis menunjukkan hasil negatif.
– Memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang berbagai macam penyakit.
– Sering mengunjungi dokter, bahkan hingga ke luar kota atau ke luar negeri.
– Faktor-faktor risiko sindrom Munchausen tersebut meliputi:
– Trauma masa kecil, Ganggua Kepribadian

Mendiagnosis sindrom Munchausen sangatlah sulit. Kebanyakan penderitanya tidak bisa jujur. Jika mendapati bahwa gejala fisik yang dialami pendrerita ternyata palsu atau dibuat-buat, dokter akan merujuk pasien ke dokter spesialis jiwa (psikiater). Psikiater akan mengajukan sederet pertanyaan dari kriteria khusus yang dikenal dengan diagnostic and statistical manual of mental disorders (DSM-5). Dokter spesialis jiwa baru akan menentukan diagnosis sindrom Munchausen setelah mengeleminasi berbagai kemungkinan penyakit mental lain. Dokter juga akan melakukan pengamatan pada perilaku penderita.

Sumber:
Ferrara, P., Vitelli, O., Romani, L., Bottaro, G., Ianniello, F., Fabrizio, G. C., … & Gatto, A. (2014). The thin line between munchausen syndrome and munchausen syndrome by proxy. Journal of Psychological Abnormalities, 1-2.
Nevid, S.J., Rathus, S.S., & Grenne,B. (2018). Psikologi Abnormal/Edisi Kelima Alih Bahasa Abnormal Psychology in a Changing World/9 Edition. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published.