Mempunyai idola sudah merupakan hal yang wajar, apalagi dengan maraknya penggunaan media sosial di mana public figure dapat semakin leluasa untuk membagikan konten dan para fans nya akan dengan mudah menikmati konten tersebut. Sosial media juga dapat digunakan sebagai wadah bagi para public figure berinteraksi dengan fansnya. Interaksi yang terjadi ini dapat disebut sebagai hubungan parasosial. Dengan adanya media sosial, maka hubungan antara fans dan idolanya dapat menjadi lebih intim (Marwick & Boyd, 2011).
Hubungan parasosial dirasakan sebagai hubungan interpersonal antara dua pihak. Namun, hal ini hanya dirasakan oleh satu sisi saja yaitu dari sisi fans. Tidak ada timbal balik yang terjadi dan public figure pada dasarnya tidak mengetahui keberadaan fansnya secara personal (Sokolova & Kevi, dalam Perbawani & Nuralin, 2021). Hubungan parasosial ini dianggap muncul ketika fans merasa bahwa mereka sangat mengenali karakter dari idola mereka, seolah-olah idol tersebut adalah seorang teman. Interaksi yang dilakukan secara berkala melalui media sosial akan membuat fans tersebut berpikir jika mereka memiliki kedekatan dengan persona yang ditampilkan oleh idolanya di media sosial.
Beberapa penelitan menemukan bahwa hubungan parasosial memiliki dampak negatif bagi fans. Fans dianggap sebagai seseorang yang kesepian, terisolasi secara sosial, dan hanya mengejar kepuasan parasosial mereka. Fans yang terisolasi secara sosial ini akan memenuhi kebutuhan sosialnya melalui interaksi imajiner. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar fans tidak pernah bertemu secara langsung dengan idolanya dan interaksi yang terjadi adalah interaksi sekunder atau pada tingkat fantasi (Stever, 2009). Hubungan parasosial juga dapat mengakibatkan seorang fans merasa seolah-olah ia tidak lagi membutuhkan hubungan sosial dengan lingkungan di sekitarnya dan hanya terfokus pada idolanya. Dan pada kasus yang lebih parah lagi, jika seorang fans rela melakukan tindakan-tindakan berbahaya bagi dirinya dan idolanya, serta melanggar norma dan hukum yang berlaku.
Walaupun begitu, hubungan parasosial ini juga ada sisi positifnya loh! Seorang fans yang kehilangan idolanya karena kematian bisa saja mengembangkan sikap empati terhadap gangguan mental atau fisik yang terjadi di sekitar mereka, lebih terbuka terhadap gangguan mental yang mereka miliki, mencari-cari informasi mengenai kesehatan mental, serta mulai mencoba untuk mencari pertolongan mengenai kondisi mental mereka. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Pirkis, dkk (dalam Greenwood, 2021) di mana terjadi peningkatan jumlah orang-orang yang menelepon ke suicide helplines di Australia dalam seminggu setelah kematian Robin William, seorang aktor dari Amerika. Begitu juga beberapa tindakan positif seperti mengumpulkan dana untuk diberikan kepada lembaga yang membutuhkan, melakukan doa bersama, serta menyebarkan awareness mengenai depresi dan bunuh diri dilakukan oleh para penggemar boygroup SHINee saat salah satu membernya dikabarkan meninggal dunia akibat bunuh diri karena depresi (Az-Zahra, 2019).

Referensi:

Greenwood, D. (2021, September 27). Parasocial Losses: Why It Hurts When a Celebrity Dies. From Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/blog/mirror-mirror/202109/parasocial-losses-why-it-hurts-when-celebrity-dies
Perbawani, P. S., & Nuralin, A. J. (2021). Hubungan Parasosial dan Perilaku Loyalitas Fans dalam Fandom KPop di Indonesia. Jurnal Lontar, 9(1), 42-54.
Stever, G. S. (2009). Parasocial and Social Interaction with Celebrities: Classification of Media Fans. Journla of Media Psychology Theories Methods and Applications, 14(3).

Leave a Reply

Your email address will not be published.