INTRO
Sepanjang yang sering di dengar, kesurupan seringkali dikaitkan dengan hal gaib, mistik, kepercayaan budaya, hingga gangguan kejiwaan.

Kesurupan atau yang dalam bahasa inggris disebut trance atau demonic (spirits) possession adalah keadaan kesadaran yang tidak biasa atau berubah dan perubahan perilaku. Seperti Dissociative Identity Disorder, schizophrenia, epileptic, Tourette’s Syndrome, mania, histeria, psychosis dan beberapa masalah kejiwaan lainnya.

Menurut beberapa ahli psikolog, kesurupan merupakan reaksi kejiwaan yang disebut dengan Disosiatif Trance Disorder (DTD) atau gangguan disosiasi. Menurut teori Sigmund Freud Gangguan disosiasi terjadi karena terdapat konflik. Konflik-konflik yang tidak terselesaikan, membuat terbawa hingga masuk ke alam bawah sadar dan dipendam, ketika terdapat hal pemicu, maka konflik-konflik tersebut keluar ke permukaan berwujud perilaku-perilaku yang kita amati, yang kemudian disebut kesurupan, gangguan semacam ini termasuk gangguan mental (Disosiatif Trance Disorder)

PENYEBAB
Faktor pemicunya seperti: adanya konflik-konflik yang ada dalam dirinya belum terselesaikan, penyelesaian masalah (coping) emosi, coping stresnya buruk, mengalami stres berat, kecemasan (anxiety) yang tinggi, kepribadian tertutup, lingkungan sosial, perilaku yang ditiru (modelling) dan lain-lain.

Terdapat beberapa istilah tulisan-tulisan berkaitan dengan kesehatan mental untuk merujuk pada fenomena kesurupan. Dalam sebuah buku PPDGJ III yaitu dissociative trance disorder, possession syndrome atau possession hysterical atau possession disorder, dissociative identity disorder, dan gangguan trans kesurupan. Jadi, kesurupan menurut pandangan ilmiah adalah dari gangguan disosiasi, yaitu belum terintegrasinya kepribadian individu dengan baik. Sehingga timbul situasi tertentu yang berkaitan dengan stres/tekanan, dengan bagian kepribadian muncul secara otonom dan menggantikan kepribadian asli yang selama ini disadari (Siswanto, 2015).
“Kasus kesurupan diperkirakan muncul karena anggapan masyarakat dengan sisi keagamaan yang kuat terlalu membesar-besarkan atau mengaitkannya dengan keberadaan makhluk halus,” (Blackmore, 17/02/2005) dikutip dari Guardian.

Beberapa penelitian yang dapat dijadikan bahan pendukung sistasi Blackmore terkait kesurupan adalah bahwa individu yang kesurupan bukan karena gangguan makhluk halus, melainkan masalah psikis. Dari permasalahan psikis tersebut dapat disebabkan karena hal menjadi banyak kajianya contohnya, faktor kelelahan, tekanan pikiran, trauma yang menimbulkan tekanan sang individu.
Menurut penelitian seorang ahli psikis, William J. Baldwin, Ph.D mengatakan bahwa terdapat perbedaan antara Dissociative Identity Disorder (DID) yang sering dikait-kaitkan dengan kesurupan, dengan Spirit Possession Disorder (SPD). Menurut Baldwin, DID lebih menitikberatkan permasalahan atau trauma yang pernah dialami pada masa kecil seseorang dan SPD merupakan hal kaitan seputar makhluk halus. Baldwin juga menjelaskan keberadaan makhluk halus yang sudah ada sejak zaman dahulu, serta upaya pengusirannya yang biasa disebut exorcist Sementara temuan Springate (2009) mengungkapkan bahwa kesurupan dalam dunia Barat dianggap sebagai dampak dari stres berkepanjangan, akan tetapi, dalam budaya Timur, kesurupan sering dimaknai sebagai sebab yang diakibatkan oleh makhluk halus, serta kepercayaan dari ajaran agama (adanya setan, iblis dan jin), dan faktor adat budaya.
FAKTOR LAIN
Faktor presipitasi adalah faktor yang menjadi stimulus yang menimbulkan kesurupan patologis terjadi. Dalam hal ini yang berperan menjadi presipitasi adalah pengaruh lingkungan, contohnya, mengunjungi tempat tempat yang angker, dan menonton kuda lumping. Dalam hal ini, tempat angker dan menonton kuda lumping, merupakan hal yang menjadi stimulus. Kedua stimulus ini menimbulkan sugesti sehingga memunculkan perasaan yang disebut mengalami kesurupan. Sugesti ini diperkuat oleh pembelajaran yang telah diperoleh dari lingkungan, budaya dan keyakinan (Springate, 2009)

Faktor perpetuasi adalah faktor yang dapat menjadikan gejala tekanan kondisi sugesti pelaku kesurupan kesurupan permanen, sehingga patologis ini menjadi menetap. Temuan menunjukkan, faktor perpetuasi berupa persepsi individu menguat, dan pengaruh makhluk halus dan ilmu gaib terhadap pelaku tersugesti kuat pula. Mekanisme pertahanan penguatan sugesti ini muncul ketika ego tidak mampu menyeimbangkan tuntutan id yang lebih kuat dari superego (Semiun, 2006). Sehingga, akan mengalami banyak konflik karena ego tidak mampu mengambil keputusan terhadap tuntutan tuntutan yang kuat (Semiun, 2006).

AKIBAT
Kesurupan yang bersifat patologis, juga dianggap sebagai aib yang menimbulkan rasa malu, rendah diri pada individu yang pernah mengalaminya. Tidak hannya individu tersebut, juga keluarga atau masyarakat setempat, sehingga mengakibatkan menurunya fungsi sosial bagi individu yang bersangkutan di dalam lingkungannya. Selain dampak sosial hal internal yang mempengaruhi psikis individu seperti, pemberian label dan stigma sosial kepada individu yang pernah mengalami kesurupan dengan tipe patologis ini, akan menambah tekanan bagi kondisi psikologis individu yang pernah mengalaminya.

SOLUSI
Penelitian mengenai peranan happiness (Siswanto, 2015) solusi mencegah kesurupan, adalah dengan membabarkan program-program untuk mencegah terjadinya kesurupan dan meningkatkan derajat kesehatan. Penelitian tersebut menjelaskan, terdapat karakter yang perlu dikembangkan adalah kebaikan hati yang muncul dalam sifat dan perilaku altruis.

Perilaku altruis merupakan perilaku memperhatikan orang lain, membantu dan berkorban bagi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi upaya preventif dalam fenomena kesurupan (Siswanto, 2015). Selain altruis, faktor dukungan emosional juga merupakan upaya preventif karena hal ini dibutuhkan dalam membantu meningkatkan kesehatan psikologis individu. Perasaan serta emosi positif akan membantu individu dalam menyikapi berbagai permasalahan yang ada, sehingga individu mampu menjadi pribadi yang sehat.

REFERENSI
Anjaryani A M, Rahardanto M S. (2016), DINAMIKA KESURUPAN PATOLOGIS: STUDI KASUS DI JAWA TENGAH, Jurnal Experientia Volume 4, Nomor 1 Juli 2016 Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Hal. 11-22
Siswanto. (2015). Peranan Happines untuk Mencegah Terjadinya Kesurupan. Fakultas Psikologi Universitas Soegijapranata. Semarang. In Press
Syarifah, (2019), Fenomena Kesurupan Dalam Persepsi Psikolog Dan Peruqyah, Jurnal Studia Insania Vol. 6, No. 2 hal 108 – 120, November 2019, Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, ISSN 2355-1011, e-ISSN 2549-3019 DOI: 10.18592/jsi.v6i2.2208

Leave a Reply

Your email address will not be published.