Kata skizofrenia diterjemahkan sebagai “pemisahan pikiran” dan merupakan bahasa Latin Modern dari kata Yunani schizein (σχίζειν, “membelah”) dan phrēn, (φρήν, “pikiran”).
Penggunaannya dimaksudkan untuk menggambarkan pemisahan fungsi antara kepribadian, pemikiran, memori, dan persepsi. Skizofrenia adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan signifikan dalam persepsi, pikiran, suasana hati, dan perilaku dengan episode psikosis yang terus menerus atau kambuhan.

Skizofrenia didiagnosis berdasarkan kriteria dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association atau International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD) yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Gejala utamanya adalah halusinasi (biasanya mendengar suara), delusi, dan pemikiran yang tidak teratur. Gejala lainnya termasuk penarikan sosial, penurunan ekspresi emosional, dan apatis. Gejala biasanya muncul secara bertahap, dimulai pada usia dewasa muda, dan dalam banyak kasus tidak pernah sembuh. Selain perilaku yang diamati, dokter juga akan mengambil riwayat yang mencakup pengalaman yang dilaporkan orang tersebut, dan laporan orang lain yang akrab dengan orang tersebut, saat membuat diagnosis. Untuk mendiagnosis seseorang dengan skizofrenia, dokter harus memastikan bahwa gejala dan gangguan fungsional ada selama enam bulan (DSM-5) atau satu bulan (ICD-11) terlebih dahulu. Diagnosis digunakan untuk menggambarkan perilaku yang diamati yang berasal dari berbagai penyebab yang berbeda. Banyak orang dengan skizofrenia memiliki gangguan mental lainnya, terutama gangguan penggunaan zat, gangguan depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan obsesif-kompulsif. Secara umum, skizofrenia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu disorganisasi, katatonik, dan paranoid. Tipe pertama adalah disorganisasi. Penderita skizofrenia tipe ini menunjukkan perilaku yang kacau, pembicaraan tidak berhubungan atau tidak terorganisasi. Tipe kedua adalah katatonik yang merupakan fase perlambatan aktivitas. Sedangkan yang terakhir adalah paraoid. Tipe ini sering mengalami munculnya halusinasi yang menyebabkan munculnya kegelisahan atau ketakutan. Penderita tipe paranoid akan merasakan kebesaran, kecemburuan, kegelisahan, dan kebingungan yang tidak realistis. Mereka bisa berhalusinasi mendengar suara-suara yang tidak didengar oleh orang lain.

Kemungkinan penyebab skizofrenia diantaranya adalah faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik mencakup berbagai varian genetik yang umum dan langka. Skizofrenia digambarkan sebagai gangguan perkembangan saraf tanpa batas yang pasti, atau penyebab tunggal, dan diperkirakan berkembang dari interaksi gen-lingkungan dengan faktor kerentanan yang terlibat. Perkiraan heritabilitas skizofrenia adalah antara 70-80%. Komponen genetik berarti bahwa sebelum lahir perkembangan otak terganggu, dan pengaruh lingkungan mempengaruhi perkembangan otak pascakelahiran. Sedangkan faktor lingkungan yakni infeksi, stres ibu prenatal , dan malnutrisi pada ibu selama perkembangan prenatal. Penggunaan ganja dapat menjadi faktor penyumbang dalam perkembangan skizofrenia, berpotensi meningkatkan risiko penyakit pada mereka yang sudah berisiko. Banyak orang dengan skizofrenia mungkin memiliki satu atau lebih gangguan mental lainnya, seperti gangguan panik, gangguan obsesif-kompulsif, atau gangguan penggunaan zat. Pencegahan skizofrenia sulit dilakukan karena tidak ada penanda yang dapat diandalkan untuk perkembangan selanjutnya dari gangguan tersebut. Terapi perilaku kognitif dapat mengurangi risiko psikosis pada mereka yang berisiko tinggi setelah satu tahun. Tindakan pencegahan lainnya adalah menghindari obat-obatan yang telah dikaitkan dengan perkembangan gangguan, termasuk ganja, kokain, dan amfetamin. Perawatan andalan adalah obat antipsikotik, bersama dengan konseling, pelatihan kerja, dan rehabilitasi sosial. Skizofrenia memiliki biaya manusia dan ekonomi yang besar. Ini menghasilkan penurunan harapan hidup 20 tahun dikarenakan hubungannya dengan obesitas, pola makan yang buruk, gaya hidup yang tidak banyak bergerak, dan merokok.

Daftar Pustaka:
Buckley PF, Miller BJ, Lehrer DS, Castle DJ. (2009). Psychiatric comorbidities and schizophrenia. Schizophr Bull.
Kompas.com. (2021, 15 Juni). Mengenal Skizofrenia, Gangguan Jiwa yang Pengaruhi Kehidupan Sosial. Diakses pada 28 Juli 2021, dari https://www.kompas.com/sains/read/2021/06/15/100000323/mengenal-skizofrenia-gangguan-jiwa-yang-pengaruhi-kehidupan-sosial?page=all
Selten JP, Cantor-Graae E, Kahn RS. (2007). Migration and schizophrenia. Current Opinion in Psychiatry.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *